Manisnya Es Buah di Ladang Migas ATW

SORE itu di sekitar ladang Migas Alas Tua Barat (ATW), Blok Cepu, di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa-Timur mulai redup. Sisa musim hujan masih tampak ditandai mendung bergelayut di dada langit. Pelahan berarak digendong angin menjadikan matahari timbul tenggelam diantara pijakan awan.

Beberapa bulan terakhir sumur minyak yang tak jauh dari lokasi wisata Kahyangan Api sesekali diguyur hujan. Sepertinya musim hujan sudah mulai berlalu di sekitar ladang yang digarap Mobil Cepu Ltd (MCL), anak perusahaan ExxonMobil asal Amerika itu. Kendati  air langit belum luruh, namun guntur acap kali menyalak.

Walau awan makin merunduk namun tak menyurutkan sejumlah staf Kantor Camat Ngasem mendatangi warung rombong sederhana di pinggir pangkalan ojek jurusan Ngasem-Kalitidu, Ngasem-Ngambon, Ngasem-Dander, dan bahkan langsung Ngasem-kota Bojonegoro. Tempat berjualan es buah yang sudah delapan bulan muncul di sekitar lokasi ladang Migas ATW tersebut.   

Pelanggan yang datang disambut ramah oleh, Mursidik, penjual es buah warga asal Desa Butoh, Kecamatan Ngasem. Dengan cekatan dia melayani pelanggan. Pria bertubuh kurus ini mencoba mengais rejeki dari warga sekitar dari berbagai lapisan profesi.

Disela melayani pembeli, Mursidik membuka kisah hidupnya sebagai penjual es buah kepada Suarabanyuurip.com. Terpikatnya membuka usaha jualan es buah di desa ring satu ATW tersebut ibaratnya mengais rejeki para pegawai kecamatan, warga dan bahkan tenaga security ladang Migas seusai menjalankan tugasnya menjaga lokasi.

Baca Juga :   Menebar Inspirasi Motivasi Jadi Wirausahawan Tangguh

“Saya jualan es buah hanya siang hari, Mas. Mulai jam sembilan, sorenya pulang ke rumah,” ungkap mantan karyawan koperasi di Bojonegoro ini.

Upaya untuk usaha membuka peluang kerja sudah dilakukan sejak usia muda, sehingga tidak heran jika harus menempuh perjalanan jauh. Dia sering menempuh perjalanan jauh saat menjadi karyawan koperasi.

“Kalau menempuh perjalanan lima kilo meter dari desa saya ke Ngasem sudah tidak menjadi soal,” jelasnya.

Selama menjadi penjual es buah banyak mendapatkan berkah. Meskipun dagangan yang dijualnya tidak selalu habis, namun setiap hari yang dia tetap kulakan dari kota Bojonegoro.

Alhamdulillah dapat penghasilan lumayan jualan di sekitar ladang minyak ini. Cukup untuk kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.

Untuk semangkok es buah, Mursidik memasang tarif Rp4.000. Jadi dari modal Rp300.000,  seharinya rata-rata bisa meraup untung sekitar Rp40.000. Tentunya belum terpotong biaya lain-lain.

“Buahnya tidak saya kupas semua, Mas. Jika ada pembeli datang baru saya kupas,” katanya.

Soal hasil baginya tidfak menjadi persoalan, karfena disadarinya semuanya tidak tentu. Tinggal melihat kondisi dagangan terjual berapa banyak. Kalau kondisinya cerah tidak hujan pelanggan yang beli es juga lumayan. Tetapi, jika hujan turun pasti menurun drastis.

Baca Juga :   Kesejahteraan Minim, Tiga Tahun Seragam Tak Diganti

“Saya baru dapat uang Rp8.000 tutup langsung ya pernah, Mas,” kata Mursidik.

Seringnya beralih profesi, mulai berdagang hingga menjadi karyawan koperasi tidak menjadi persoalan. Prinsipnya membuka usaha merupakan cara untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Sekalipun konsekwensinya harus jatuh bangun dilakoninya selama masih bujangan.

Setelah menikah dia ke luar dari karyawan koperasi. Kemudian membuka usaha jualan es buah.

“Meskipun usaha jualan es buah ini masih taraf belajar. Tapi, saya tetap semangat tidak putus asa,” terangnya.

Dia tambahkan, guna mewujudkan impiannya untuk bangkit lagi memerlukan tenaga, dan pemikiran kreatif membaca peluang yang ada. Oleh sebab itu ide-ide dalam  menciptakan usaha baru terus dilakukannya. Karena, usaha apapun adalah memiliki peranan besar untuk masa depan keluarga. Yang terpenting harus dilaluinya dengan kesabaran tidak putus asa.

“Saya sudah bersyukur meskipun sekarang sebagai penjual es buah di sini. Yang terpenting halal tidak merugikan orang lain,” tukas bapak satu anak tersebut sambil menyuguhkan es buah kepada pelanggan yang memesannya. (samian sasongko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *