SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Toren air dipertigaan Desa Geger, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur itu masih kokoh berdiri. Meski dibangun 2005 silam, bangunan setinggi sekira 50 meter tersebut terlihat terawat. Warna catnya belum pudar dimakan waktu.
Tampungan air itu adalah proyek bantuan Water Supply and Sanitation Project for Low Income Communities (WESLIC) yang didanai bank dunia untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan pemenuhan air bersih maupun sanitasi.
Sekarang ini, bantuan tersebut mampu dikembangkan menjadi HIPPAM Desa Geger. Selama hampir tujuh tahun tandon air dikelola HIPPAM Tirta Mas. Omzetnya telah mencapai ratusan juta pertahunnnya. Suksesnya pengelolaan WESLIC oleh HIPPAM Tirta Mas itu menjadikan Desa Geger sebagai tempat study banding baik nasional maupun mancanegara.
“Untuk membentuk HIPPAM rapatnya lebih kalau 50 kali. Prosesnya panjang karena dibutuhkan kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk mendukung pembentukan HIPPAM,†kata Kepala Desa Geger, Bambang Soepriyadi membuka cerita kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis (7/2/2013).
Diakui, awalnya masyarakat enggan mengelola bantuan WESLIC karena kurangnya kesadaran untuk berswadaya. Namun lambat laun seiring berjalannya waktu, pemahaman masyarakat akan pentingnya tandon penampung air dengan kedalaman sumber air tanah 120 meter itu muncul.
Beberapa lembaga yang ada di Desa Geger mulai perangkat desa, lembaga desa dan tokoh masyarakat Desa Geger akhirnya membuat kesepakatan untuk membentuk wadah HIPPAM yang diketuai Khoirul Huda.
“Wadah itu terbentuk Mei 2006,†sergah Bambang.
Dari lahirnya HIPPAM inilah kesadaran masyarakat untuk berswadaya mulai tumbuh. Bentuk swadaya ada dua yaitu incase dan income. Incase merupakan swadaya masyarakat untuk pengadaan peralatan HIPPAM. Sedang income adalah bentuk swadaya masyarakat untuk melengkapi perlengkapan pipa dan piranti lainnya untuk menyalurkan air kerumah masing-masing warga.
Pengelolaan HIPPAM Tirta Mas pun kemudian dilakukan secara profesional. Mulai kelengkapan kantor dan tenaga pengelola. Untuk tenaga pengelola ada 7 petugas yang bekerja di HIPPAM Tirta Mas yaitu tenaga administrasi, pencat meteran, dan teknisi. Masing-masing petugas mendapat gaji rata-rata Rp 400 ribu setiap bulannya.
Dalam perjalanannya, banyak warga Geger yang mendaftar untuk menyalurkan air bersih kerumahnya. Saat ini telah ada 912 kepala keluarga (KK) yang teraliri HIPPAM Tirta Mas. Sebab biayanya relatif murah dibanding air yang disalurkan perusahaan daerah air minum (PDAM).
Untuk tarif umum warga hanya dikenakan biaya Rp750 perkibik. Sedang untuk tarif sosial Rp500 perkibik. Tarif sosial ini diperuntukkan masjid, sekolah, kantor desa dan tempat umum lainnya.
“Dari pengelolaan HIPPAM Tirta Mas , setiap bulannya bisa mendapatkan hasil Rp12 juta. Atau sekitar Rp144 juta pertahun,† kata Bambang menerangkan.
Dari omzet yang cukup besar itu, selain dipergunakan menggaji karyawan dan biaya operasional sebagian juga dipergunakan untuk kegiatan pembangunan desa. Seperti pembangunan jalan, dan fasilitas umum lainnya. (bersambung)