Bertemu MCL di Restoran AMBPA Batalkan Demo

supolo

SuaraBanyuurip.com – Ririn W

Bojonegoro – Setelah terjadi pertemuan dengan operator ladang migas Blok Cepu, Mobil Cepu Ltd (MCL) di salah satu cafe dan restoran di Bojonegoro,  Jumat (15/2/2013), Aliansi Masyarakat Banyuurip Peduli Amdal (AMBPA) membatalkan aksi unjuk rasa besar-besaran yang akan digelar pada hari Senin (18/2/2013) mendatang.    

Dalam pertemuan itu MCL menghadirkan para kontraktor proyek Engineering, Procurement, and Construction (EPC) 1, PT Tripatra, EPC 2 konsorsium PT Inti Karya Persada Tekhnik (IKPT)-Kelsri, EPC 5 konsorsium PT Rekayasa Industri (rekind)-Hutama Karya (HK). Tampak pula Muspika Kecamatan Gayam, Kepala Desa Mojodelik, Kepala Desa Bonorejo, Kepala Desa Gayam, beserta puluhan warga lainnya sebagai wakil masyarakat yang tergabung dalam AMBPA.

Ketua AMBPA, Supolo, menyatakan, ada tiga hal tuntutan yang diperjuangkan, diantaranya, memberdayakan pengusaha lokal Banyuurip untuk digandeng dalam kerjasama saling menguntungkan, memberdayakan, dan mengoptimalkan perekrutan tenaga kerja lokal Ring 1, dan mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) secara nyata, dan terbuka kepada masyarakat sekitar.

“Saya mewakili dari tujuh desa yaitu Gayam, Begadon, Sudu, Ngraho, Bonorejo, Mojodelik,  dan Gayam untuk menyikapi permasalahan yang ada. Yaitu selama ini kita masih merasa menjadi penonton karena belum dimaksimalkan, baik itu untuk pengusaha lokal, dan juga tenaga kerja lokal,” tandas Supolo.

Baca Juga :   Pemkab Bojonegoro Tunggu Hasil Evaluasi CSR dari SKK Migas

Dia menjelaskan, setelah melakukan diskusi panjang terjadi kesepakatan antara MCL, dan semua kontraktor EPC 1, 2, dan EPC 5 untuk selalu dikoordinasikan terkait dengan semua tuntutan. Secara politis semua telah sepakat untuk mentaatinya.

“Mereka akan memenuhi apa yang kami minta, dan itu akan kami kawal terus. Jika dalam jangka waktu yang ditentukan masih tidak terealisasi kami akan demo lagi,” tandasnya.

Terpisah, Deputy Development Pengembangan Lapangan Banyuurip, Elviera Putri,  menyatakan, MCL mengadakan pertemuan ini untuk menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. Sehingga bisa disampaikan kepada semua pihak, agar tidak ada kendala dalam pengerjaan proyek di Blok Cepu.

“Kami coba semaksimal mungkin local opportunity, dan kontraktor kita juga memiliki skala prioritas kalau memang  tidak bisa menggunakan tenaga lokal ya tidak mungkin dipaksakan,” tegasnya.

Hal ini dikarenakan proyek Banyuurip membutuhkan tekhnologi yang canggih, dan tenaga yang benar-benar berpengalaman. Seperti tenaga pengelasan (Welder), mereka harus memiliki pengalaman selama 12 tahun, dan tidak sembarang orang diambil untuk mengerjakan itu.

Baca Juga :   CSR PT SI Muluskan Jalan Merakurak-Kerek

“Karena yang akan dilas ini harus benar-benar berkualitas sesuai penggunaannya selama 30 tahun ke depan, jadi tidak mungkin memakai tenaga kerja yang baru melakukan pelatihan,” jelas wanita berambut pendek ini.

Akan tetapi tidak menutup kemungkinan semua kontraktor juga akan melibatkan tenaga kerja lokal dan itu sudah dilakukan. Sedangkan untuk program CSR pihaknya mengaku sedang menggodok untuk jatah di tahun 2013 ini.

“Belum tahu berapa dana yang akan dikeluarkan nanti. Akan tetapi, selama ini MCL sudah banyak memberikan program CSR di masyarakat,” tegasnya. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *