Dengan Las Suwarno Mampu Kuliahkan Dua Anaknya

SuaraBanyuurip.comEky Nurhadi

Bojonegoro – Sorot mata lelaki itu tajam. Senyumnya dingin, alis tebal dan kumis yang lebat kian membuatnya terlihat sangar. Siapapun yang bertemu pertamakali dengannya pasti akan berprasangka dia adalah sosok yang keras.

Namun, dibalik pawakan yang menyeramkan itu, ternyata dia seorang yang ramah. Tutur katanya halus dan santun.

Dia adalah Suwarno, tukang las listrik yang tinggal di Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Di rumah berukuran 6 x 8 meter termasuk halaman, Suwarno telah puluhan tahun menggeluti las listrik.

Mulai pagi hingga sore bahkan malam, pria berusia 65 tahun itu selalu berkutat dengan las listrik. Mengelas alat-alat pertanian, terop, dan bahan besi lainnya untuk menyambung hidupnya. Karena tak ada secuil pun sawah ladang yang menjadi tumpuan hidup Suwarnno.

“Saya mulai membuka las sejak 1982, dik,” ujar Suwarno membuka perbincangan dengan suarabanyuurip.com, Kamis (14/02/2013).

Kala itu tak ada yang mengajari Suwarno teknik mengelas. Dia belajar secara otodidak. Alat las yang dibelikan orang tuanya dia otak-atik sendiri sebisanya. Namun lambat laun dengan ketelatenan Suwarno mampu menyambung besi dan bahkan dapat merangkai mesin perontok (grantek).

Baca Juga :   Terinspirasi Kisah Nyata, Meivirda Mahasiswi STAI Attanwir Tulis Buku 18 Tahun Bersama Ibu

“Saya belajar sendiri. Mau sekolah las orang tua juga tidak punya duit,” kenangnya.

Dari situlah titik perjalanan Suwarno sebagai tukang las listrik dimulai. Mesin grantek yang dirangkainya menjadikan tetangga menaruh kepercayaan tentang keterampilan yang dimilikinya. Banyak tetangga yang mulai membutuhkan jasa Suwarno. Memperbaiki alat-alat rumah tangga yang rusak.

”Waktu itu belum banyak yang bisa nyervis, akhirnya saya sering di panggil kerumah warga,” ucap dia menerangkan.

Seiring berjalanannya waktu, jasa las listrik yang digeluti Suwarno mulai dikenal warga. Dari getok tular, banyak tetangga sekitar maupun luar desa yang datang membutuhkan jasanya. Order pun mulai mengalir.      

”Alhamdulillah dik, lumayan ramai sekarang. Kalau kadang sepi itu sudah biasa,” tutur suami Samiatun (50).

Setiap harinya Suwarno mengaku memperoleh pendapatan Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Dari pendapatan itu sebagian dia sisihkan untuk biaya pendidikan dua putrinya yakni Suciani dan Sarifah.

Baginya, pendidikan anak jauh lebih penting untuk bekal buah hatinya. Karena Suwarno sadar tak sedikitpun warisan yang bisa dia berikan kepada dua buah hatinya. Untuk itu Suwarno rela banting tulang, peras keringat ketika kedua anaknya mulai memasuki bangku kuliah.

Baca Juga :   Berkat Dadar Gulung Polkadot, Omzet Anni Capai Rp 12 Juta per Bulan

Pagi, siang bahkan sampai malam Suwarno melembur orderan yang didapat agar cepat selesai sehingga bisa berganti untuk mengerjakan orderan lainnya. Itu terus dia lakukan sampai kedua anaknya lulus Strata Satu (S1) di salah satu Perguruan Tinggi di Indonesia.

”Saya tidak ingin anak-anak bernasib sama seperti saya. Tidak bisa sekolah tinggi,” aku pria enam bersaudara ini.   
Kerja keras yang dilakukan Suwarno pun tak sia-sia. Dua anaknya sekarang ini sudah bekerja di sebuah instansi pemerintah di Kota Gresik dan Surabaya. Perjalan hidup yang pahit itu telah terobati. (had)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *