Kematian Khoirul Anam Masih Sisakan Misteri

tenggelam

Siapapun tak bisa membantah jika kematian adalah misteri Illahi. Tenggelamnya Khoirul Anam di kubangan proyek migas Blok Cepu pun menyisakan misteri.

BISA jadi bocah berusia delapan tahun asal Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur itu telah menemui sang Khaliq. Kematiannya di lokasi tambang dekat well pad B sumur minyak Banyuurip, dari hampar ladang migas Blok Cepu tak harus diratapi. Meski, di sebaliknya sarat dengan misteri yang musti diungkap.  

Kini beragam tanggapan, dan kasak kusuk di kalangan warga mulai menghegemoni kehidupan penduduk desa sekitar tempat tragedi. Terlebih setelah sejumlah titik area proyek yang dioperatori Mobil Cepu Ltd (MCL) itu merupakan tempat wingit (angker), yang diyakini warga yang masih kental nilai mitologi itu, acap kali memunculkan kemistisan.

Sebagaimana sejumlah titik yang dipertahankan warga sebagai lokasi ritual. Mereka pertahankan karena warisan leluhur yang sarat tradisi bernuansa mistis. Seperti sendang Lego di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam yang tak jauh dari Bonorejo. Di sana masih banyak titik misteri yang gagal dipertahankan warga akibat dirajam proyek negara tersebut.

Tak bisa disalahkan jika tidak sedikit warga menduga tewasnya bocah kelas dua SD Bonorejo tersebut merupakan tumbal, akibat banyaknya tempat tertentu yang tergusur proyek. Meski belum tentu demikian namun nuansa mistis banyak diyakini oleh warga sekitar.

Salah seorang petugas security yang pernah bertugas di malam hari, menceritakan lokasi di dekat well pad B, proyek Banyuurip memang dianggap angker. Beberapa security yang juga pernah mendapat giliran berjaga, mengaku mendapat gangguan aneh. Seperti suara hingga penampakan sosok dari alam lain.

“Walah Mas, kalau di dalam proyek masalah seperti itu jangan ditanyakan, lokasi memang benar-benar angker. Bahkan tidak hanya di lokasi meninggalnya Anam, dilokasi lain informasinya juga demikian,” ujarnya tanpa mau disebut jatidirinya karena takut terkena imbas kemarahan Mbah Danyang (penguasa alam kegelapan) penunggu lokasi.

Pria berperawakan tinggi tegap itu mengungkapkan, biasanya menginjak waktu tengah malam diantara jam 00.00 – 02.30 WIB kejadian yang belum tentu diterima akal sehat mulai terjadi.

“Dipercaya atau tidak, biasanya alat berat di lokasi bunyi sendiri, terdengar suara perempuan, penampakan sosok manusia hitam, dan sejenisnya. Tidak hanya saya, beberapa teman yang menggantikan saya mengalami hal serupa,” katanya lirih.  

Baca Juga :   Menikmati Kicau Burung di Pasar Sawo

Rangkaian peristiwa terkait keberadaan alaming lelembut (alam gaib) tersebut bukan merupakan hal baru lagi bagi masyarakat sekitar. Bahkan sudah lama terjadi sebelum Humpus Patragas menemukan sumur migas Banyuurip dan Jambaran yang kemudian diakuisi Exon Mobil, untuk selanjutnya di operatori MCL. Warga meyakini kejadian tersebut kerap terjadi dari sejumlah tempat yang ditenggarai sakral dan jarang terjamah.

“Biasanya berasal dari sendang maupun pepohonan di dekat lokasi proyek, dulu saja sudah ada. Apalagi sekarang,”ungkapnya dengan penuh keheranan.

Tewasnya Khoirul Anam terbilang mengagetkan, bahkan menuai beragam polemik. Kondisi proyek yang masih dalam proses pengerjaan, masih membuka celah bagi anak-anak sekitar lokasi menerobos masuk. Kemudian bermain melalui pagar pembatas.

Seperti diberitakan SuaraBanyuurip.com, Jum’at (22/2/2013), Isa bocah asal Dusun Temlokorejo, Desa Gayam, juga pernah mencari belalang di dalam lokasi well Pad C sebagaimana yang dilakukan almarhum Khoirul Anam di lokasi well pad B Banyuurip, sebelum akhirnya tenggelam dalam kubangan air di dalam lokasi tersebut.

Kematian memang selalu bersinergi dengan kehilangan. Meski begitu proses terjadinya itulah yang mengundang spekulasi. Tak keliru jika Parmani, tokoh publik aktivis Forkomas Baja dari desa sekitar ladang minya Banyuurip menilai, tragedi berdarah itu sebagai bentuk keteledoran petugas di lapangan.   

Jika dilogika, ungkap lelaki kritis ini,  tak mungkin seorang bocah berani berenang di kolam proyek yang kedalamannya sampai 3 meter. Dia tengarai para bocah yang bermain di sekitar lokasi itu ketakutan karena dikejar-kejar security sehingga menyelamatkan diri terpeleset hingga terjebur di kolam.

“Operator harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa itu,” tegas tokoh masyarakat Desa Brabowan, Kecamatan Gayam itu panjang lebar.

Sedangkan Koordinator Alianasi Masyarakat Banyuurip Peduli Amdal (AMBPA), Sopolo, mengaku, akan melayangkan somasi ke operator untuk bertanggungjawab atas Khoirul Anam di lokasi proyek engineering, procurement and constructions (EPC) – 1 Banyuurip.

“Saya akan mengirimkan surat ke Komnas HAM untuk menyelediki kasus ini,” tegas Supolo penuh semangat saat dimintai tanggapan terhadap problema tersebut.

Baca Juga :   Loyalitas Estetis Pelaras Gamelan

Bagai gayung bersambut. Kalangan DPRD Kabupaten Bojonegoro pun mereaksi kematian sang bocah. Dewan akan menerjunkan tim untuk melakukan investigasi terhadap peristiwa menggegerkan warga Bumi Angling Dharma tersebut.

“Kita akan melakukan investigasi untuk mengetahui kebenaran insiden ini,” tandas Wakil ketua DPRD Bojonegoro, Syukur Priyanto.

Investigasi yang dia maksud, untuk mengetahui secara pasti apakah standar safety yang diterapkan PT Tripatra Engineers & Cosntructors, pelaksana proyek EPC-1 Banyuurip sudah sesuai prosedur. Jika Tripatra sudah melaksanakan protap pengamanan yang ditetapkan, perusahaan itu tidak bisa serta merta disalahkan.

Syukur merasa heran dengan insiden itu, sebab jika memang PT Tripatra telah menerapkan sistem safety dengan benar, tentunya tidak akan membiarkan warga sipil, apalagi anak-anak, bermain di dalam lokasi proyek.

Sebagai kontraktor proyek EPC-1, Tripatra, menurut juru bicara kontraktor asal Jakarta ini,  Budi Karyawan, sejak awal sebelum proyek dimulai, pihaknya sudah mensosialisasikan kepada masyarakat sekitar, maupun pekerja tentang risiko di dalam lokasi proyek. Sehingga tidak sembarang orang boleh masuk lokasi proyek tanpa ada standar safety.

”Bukan karena kita mau eksklusif, tapi kegiatan ini memiliki resiko tinggi,” sergah Budi Karyawan secara terpisah.

Budi berharap, agar insiden seperti ini tidak terulang lagi. Artinya, masyarakat semakin sadar bila di dalam lokasi proyek ada kegiatan yang memiliki resiko tinggi. Sehingga mereka tidak ke luar masuk lokasi proyek tanpa prosedural.

Baginya insiden tersebut merupakan musibah. Baik Tripatra maupun siapapun tak menginginkan peristiwa itu terjadi.

”Ini bisa sebagai pembelajaran kita semua, agar lebih sadar tentang pentingnya menjaga keselamatan,” katanya, “sebaik apapun perencanaan yang dibuat manusia, tidak bisa mengalahkan takdir dari Yang Maha Kuasa,” demikian pungkas Budi Karyawan.  

Siang pun mulai merangkak, ketika ratusan warga berkumpul di rumah duka keluarga Khirul Anam. Mereka hendak mengantar kepergian sang bocah menuju keharibaan Tuhan. Suara tangis masih sesekali terdengar diantara keluarga yang ditinggalkan. Kematian sang bocah pun masih menyisakan misteri antara menjadi tumbal, atau sebentuk kelalaian. (roz/rien/sam/had)     

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *