Diobrak Polisi Warung Kopi Pangkon Tiarap

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan – Bisnis warung kopi yang diantaranya menyiapkan wanita penghibur sebagai pembantunya di komplek pasar Agrobis di Desa Plaosan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur kini mulai tiarap. Para perempuan yang praktik sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) yang biasa melayani pelanggan pun tak tampak batang hidungnya.

Kondisi itu terjadi, setelah Polres Lamongan menggelar operasi besar-besaran di sejumlah warrung kopi dengan sebutan Kopi Pangkon di komplek pasar tersebut, Sabtu  (23/2/2013) malam. Kini pemilik warung merana setelah ditinggalkan perempuan pembantunya kabur, dan sebagian ditangkap pasukan berseragam coklat tersebut.  

Dari pantauan SuaraBanyurip.com di pasar agrobis, selama tiga malam pasca operasi polisi beberapa pemilik warung kopi masih buka. Mereka masih berjualan dengan menggelar tikar di emper stand toko yang tutup.

Kendati begitu suasana warung tersebut berbeda jauh dibanding saat warung kopi tersebut dijaga oleh gadis-gadis belia. Terlebih mereka dikenal cukup genit, dan ramah saat menyambut pengunjung datang. Tanpa keberadaan gadis pemikat tersebut hampir tidak ada penikmat kopi yang datang.

“Sudah tiga malam ini sepi, Mas,“ ujar Tikno, bukan nama sebenarnya, saat ditemui di warungnya, Rabu (27/2/2013) malam.

Sejak mulai buka lapak pukul 20.00 WIB tadi, ungkap dia, baru ada dua orang yang mampir ngopi. Untuk mengusir kejenuhan dia membunyikan lagu-lagu dangdut dari telepon selulernya.

Baca Juga :   PNS Tuban Tertangkap Bawa Sabu

Sebelumnya, Tikno memiliki tiga perempuan yang dijadikan pembantunya. Mereka berusia 18 tahun hingga 21 tahun. Apesnya ketiganya ikut digaruk polisi dalam razia polisi. Padahal salah satu pembantunya tadi sudah berusaha mengecoh petugas dengan masuk musholla bersikap seolah sedang sholat, tapi polisi tampaknya tak bisa dikibuli.

Dia akui praktik Kopi Pangkon merupakan kerjasama yang baik, dan saling menguntungkan. Pemilik warung bisa mendapatkan banyak pelanggan, sementara perempuan penghibur tersebut juga mendapatkan mangsa dari para hidung belang langganannya.

Mereka dianggap pemilik warung kopi sebagai pundi-pundi emas. Setiap malam, Tikno bisa mendapatkan penghasilan bersih  rata-rata Rp750 ribu. Padahal warung kopi miliknya, hanya menyediakan kopi tanpa ada nasi atau menu makanan lainnya.

Uang sebanyak itu didapat berasal dari banyaknya pengunjung yang datang ke warung kopi miliknya. Tiga perempuan yang melayani pengunjung menjadi magnet tersendiri. Bukan saja karena kecantikan wajah yang dimiliki mereka, usia belia dan kegenitan ketiga pelayan itu yang membuat para pelanggan gandrung. Buntutnya mereka selalu datang lagi ke warung milik Tikno.

“Mereka sangat lihai memanjakan pelanggan. Sambil menikmati kopi para penikmat  kopi bisa bermesraan dengannya,“ ujar pemilik warung Kopi Pangkon lain.

Tidak heran para pelanggan itu rela membayar berapapun harga secangkir kopi yang mereka minum. “Soal harga penjaga warung kopi saya karek mangap (tinggal menyebut) pasti dikasih pelanggan,“ ujarnya.

Baca Juga :   Polres Blora Tingkatkan Patroli Ramadhan

Harga segelas kopi di kopi pangkon ini bisa lima kali lipat hingga 10 kali lipat dibanding harga kopi di warung umum lainnya. Harga mahal tersebut termasuk ongkos pelayanan ditemani selama ngopi.

Jika masih belum puas bercengkerama dengan perempuan penjaga warung kopi, para pelanggan bisa mengajak kencan lebih dalam dengan mereka. Biasanya mereka janjian kencan setelah warung tutup. Kencannya di luar wilayah Babat karena hotel di Babat sudah tidak aman lagi akibat sering dioperasi aparat keamanan.

Untuk  sekali kencan taripnya antara Rp200 ribu hingga Rp400 ribu. Mahal? Tentu saja tidak, karena penjaga kopi pangkon rata-rata berusia muda dan berparas berparas cantik.

Selama buka warung Kopi Pangkon, aku Tikno, dia jarang masuk ke dalam warung. Operasionalnya diserahkan penuh kepada ketiga pembantunya yang semuanya bukan asli dari Babat.

Selama bekerja di tempatnya, ketiganya kos di wilayah Babat. Keluarga mereka tidak tahu pekerjaan yang mereka lakukan. Kepada orangtuanya mereka mengaku menjadi pelayan toko di pasar Agrobis Babat.

Sejak ditinggal para perempuan molek penjaga warung, pemilik warung Kopi Pangkon merasa kalang kabut. Penghasilannya jauh berkurang.

“Tapi kalau tidak buka, keluarga saya mau makan apa?“ demikian kata Tikno. (tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *