Loyalitas Estetis Pelaras Gamelan

laras gamelan-2

Instrumen gamelan tak bakal indah jika salah satu pirantinya berdawai fals. Pelaras gamelan pun tertatih dihempas hiruk pikuknya seni kontemporer.  

PERSINGGUNGAN dua benda keras terdengar bertalu. Sekali-kali ditingkah gesekan perunggu dari piranti gamelan (perangkat tetabuhan seni tradisional). Selanjutnya terdengar satu bunyi yang berbeda. Dentangnya berubah-ubah setelah beberapa kali ditempa dan digesek dengan perlatan khusus.

Sesudahnya tangan renta dengan pemukul menyerupai palu dari kayu berhenti. Berganti memukul satu demi satu Wilah (bilah nada yang ada di Demung dan beberapa perangkat gamelan lain) menjadi rangkaian nada dari tinggi ke rendah. Begitu sebaliknya, sampai dipastikan tidak satupun nada dari Demung ada yang fals.

“Alhamdulillah sudah selesai dilaras,” gumam Mbah Sarmidi (57), saat ditemui SuaraBanyuurip.com di rumahnya di Dusun Ngemplak, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Mantan pengrawit (penabuh gamelan) gaek ini menggeluti profesi sebagai pelaras gamelan sejak usia muda. Di Bumi Ranggalawe sepertinya tinggal Sarmidi yang tersisa. Lelaki senja ini demikian kaffah melakoni profesi yang sudah jarang diendus anak muda.

“Sebelum jadi pelaras, saya ikut main dulu menjadi pengrawit,” kata Sarmidi seraya mengumpulkan beberapa peralatan yang bisa dipakai melaras.

Sarmidi mulai memilih hidup berdampingan dengan kesenian tradisional Jawa pada medio 1971. Pada tahun itu dia sering mengikuti salah satu kelompok karawitan di Tuban. Meski kala itu sebagai buruh angkut perangkat gamelan.

Ketekunan yang didukung talenta berkesenian dari kakeknya, menjadikan Sarmidi muda cepat belajar. Kerapkali diberi kesempatan menggantikan salah satu pengrawit yang berhalangan hadir di satu perhelatan.

Bakat yang diasah secara autodidak Sarmidi baru diketahui para pemain senior 10 tahun kemudian. Pemuda ini lantas dijadikan pemain utama karena dinilai sudah bisa memainkan beberapa piranti gamelan, seperti; Gender Baboh,  Demung, Saron, Peking, Bonang, dan beberapa peralatan lain, dalam intonasi pelok maupun slendro.

Kecintaannya pada seni tradisi ini semakin dalam, ketika diambil kakeknya untuk tinggal dan belajar melaras gamelan. Melaras gamelan adalah pekerjaan untuk mencocokkan nada. Agar tidak ada nada yang fals, dan tidak sesuai pakem.

“Saya belajar dari kakek, saat itu saya langsung ikut tinggal di rumah beliau,” ujar lelaki penyuka rambut pendek ini.

Rasa cinta pada kesenian tradisional ini semakin mantap. Dengan bekal ketrampilan dari kakek, dan para pelaras gamelan sepuh lainnya, dia mulai membuka jasa sebagai pelaras gamel;an pada tahun 1994. Saat itu para pelaras yang terlebih dahulu bergulat dibidang itu juga sangat banyak.

Baca Juga :   Semua Kewenangan di Tangan GCI

Sarmidi tak pernah menyerah ketika bersaing dengan pelaras yang ada. Baginya, pekerjaannya bukan sekedar memenuhi nafkah keluarga, tetapi juga berdasar kecintaannya pada kesenian ini. Rasa cinta terhadap seni tradisi membuatnya bertahan.

“Lha kudu piye to, Mas. Wong saya cinta je,” tambahnya seraya tertawa kecil.

Sebagai pelaras gamelan baru, dia belum dipercaya oleh pemilik gamelan. Terlebih saat itu masih banyak orang yang lebih ahli ketimbang dirinya. Kondisi itu praktis membuat perekonomian Sarmidi yang baru saja menikah mengalami penurunan. Kondisi ini  menerpa dirinya hingga tahun 1998.

Seiring terpuruknya roda perekonomian keluarganya, gelombang reformasi datang  menyusul krisis moneter di tanah air. Hal ini berpengaruh juga pada dunia karawitan Indonesia secara menyeluruh. Beberapa perajin, dan pelaras gamelan mulai bertumbangan. Di samping karena harga kulit, perunggu, kuningan, besi, serta beberapa bahan lain tidak lagi terjangkau para perajin, imbas masuknya seni modern kian menguat.

Mereka yang tak kuat melakoni profesi sebagai pelaras gamelan memilih alih profesi. Diantaranya, menggantungkan penghidupan dengan menjadi buruh tani, kuli bangunan, serta pekerjaan lain yang jauh dari pelaras gamelan.

Kehidupan keluarga Sarmidi pun tak jauh berbeda dengan rekan seprofesi. Saat itu usaha yang sudah mulai menampakan hasil terpuruk. Sempat dia tergoda untuk melakukan pekerjaan lain. Akan tetapi karena rasa cinta, dan tanggung jawab atas keberlangsungan dunia yang dia geluti, dia tetap memilih untuk menjaga profesi ini. Meski harus mengencangkan ikat pinggang kembali bersusah-susah.

“Hanya saya, dan beberapa orang yang bertahan,” kenangnya.

Bangkit dari keterpurukan memang tidak mudah. Hal itulah yang membuat dia hanya mampu menyekolahkan dua anak perempuannya hingga sampai SMA. Itupun dengan kerja keras. Ekonominya, murni dari hasil pengrawit, dan melaras gamelan milik para seniman, maupun beberapa dalang yang ada di Tuban.

Para dalang dan seniman yang datang kepadanya. Itulah obat mujarab bagi Sarmidi. Kehadiran mereka bisa saling menguatkan, dan bertukar ilmu untuk tetap mempertahankan kesenian dalam rangka menguri-uri kebudayaan warisan leluhur.

“Itu masa-masa yang membuat saya berat, dik,” tambahnya.

Baca Juga :   Memaknai Kebebasan di Hari Kebebasan

Sarmidi tak pernah merasa salah dalam menentukan jalan hidupnya. Saat ini secercah titik terang menghampirinya disaat usia senjanya. Selain dalang dan seniman, saat ini tempatnya kerapkali didatangi pegawai dari Dinas Pariwisata maupun Dinas Pendidikan Tuban.

Kedatangan mereka untuk memesan alat kepada Sarmidi, dan melakukan perbaikan beberapa alat yang mulai rusak. Tentunya, hal ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi Sarmidi sebagai penopang ekonomi keluarganya.

“Kalau sekarang justru lumayan, meskipun karawitan kurang diminati tapi saat ini pesanan kepada saya juga banyak,” papar Sarmidi.

Usaha dia mulai mengalami kebangkitan lagi pada tahun 2012. Menurutnya, saat ini mulai banyak sekolah-sekolah yang memesan alat musik kepada dirinya. Sekarang juga mulai banyak komunitas-komunitas pegiat seni kontemporer berdatangan. Yang memasukkan konsep tradisional sebagai salah satu materi permainan musik mereka.

“Yang banyak ya itu Mas, komunitas yang pakai tambahan alat seperti ini,” jawabnya.

Meski tidak banyak, Sarmidi cukup merasa puas dengan penghasilannya. Dalam sebulan, dia mampu menghasilkan omset bersih sekitar Rp3 juta. Keuangan dia bertambah, saat dia menerima pesanan dalam jumlah besar

Harga yang dia pasang sekitar Rp400 juta untuk satu set perangkat gamelan yang terdiri dari Gender baboh,  Slenthem, Demung, Saron, Peking, Bonang, Bonang Penerus, Kendang, Sitter, dan Gong dalam nada pelok dan slendro.

“Kalau bahannya perunggu jadi mahal,” tambahnya.

Sedang untuk ecerannya, dia biasa menjual dengan harga Rp1 juga hingga Rp8 juta. Tergantung pada jenis maupun kualitas bahan dari alat musik yang dipesan.

Sarmidi menata beberapa lempengan perunggu yang dicetak berjajar. Dengan pemukul alat serupa palu dari kayu. Tangan terampil Sarmidi memainkan Saron.

Alunan nada dari Saron yang dimainkan Sarmidi berdenting. Memenuhi gugusan angin yang merongga udara perkotaan sekitar kediamannya. Sesaat aura perhelatan seni tradisi merangsek. Terbayang ratusan orang berjejer menikmati karawitan yang dimainkan Sarmidi, dan kawan-kawannya saat muda.

Dalam permainannya Samidi seolah masih menyimpan gulana. Bukan pada masa depan dia maupun anak-anaknya. Namun lebih pada pada siapa penerus yang akan menggantikannya menjaga peradaban leluhur, yang terukir melalui kesenian tradisional ini.

“Doakan, Dik, semoga ada penerus lagi,” demikian pungkas Sarmidi, pelaras gamelan yang masih tersisa. (edy purnomo)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *