REMBULAN mulai beranjak ketika pedagang kopi mulai membuka lapak. Becak cinta pun merayap bersama temaram pendar lampu di Alun-alun kota. Geliat malam menjadi ritus tak terpisah dari kota minyak, Bojonegoro.
Jika dimaknai dari sisi rutinitas sebenarnya serupa dengan malam-malam yang lain. Hanya perhelatan yang digelar komunitas jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bojonegoro pada, Jumat (3/5/2013), yang menjadikan malam di Bumi Angling Dharma menjadi lain.
Refeleksi Hari Kebebasan Pers se-Dunia yang dihelat dalam tema “Mimbar Kebebasan Pers†oleh AJI sedemikian sarat makna. Sekalipun tribun Alun-alun kota sebagai centra kegiatan malam itu dipadati insan pers dari berbagai media.
Pula para pejabat pemerintah, swasta, aktivis mahasiswa, politisi, hingga para pelaku sastra dan budaya terhegemoni harmoni. Mereka saling sapa, saling bersinggungan dalam aura kebebasan yang menyeruak begitu perhelatan dipantik Ketua Panitia Hari Pers AJI Kot Bojonegoro, Tulus Adharma.
Malam sekeliling tribun begitu sederhana. Lampu kuning gelap dipadu sinar putih menyinari perkumpulan puluhan jurnalis.
“Kita juga mengundang berbagai pengusaha, dan sejumlah pejabat di Bojonegoro untuk berbagi tentang makna kebebasan pers,”ujar jurnalis muda dari BeritaJatim.com itu.
Di mata para aktivis jurnalis sejatinya kebebasan pers tak hanya menjadi patron dari jurnalis. Lebih dari itu adalah sebentuk prilaku penuh tanggung jawab dari profesi yang berpihak kepada publik.
Bagi Tulus, demikian jurnalis lumayan ganteng ini biasa disapa, selain momen untuk memperingati hari kebebasaan pers, acara tersebut juga untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa sebenarnya jurnalis bukan hanya kalangan wartawan. Masyarakat juga bisa menjadi jurnalis.
“Intinya malam ini jurnalis, dan semua elemen berbaur jadi satu untuk ngobrol (berbicara bebas) bersama,” ungkapnya.
Tampak hadir pada malam kebebasan itu, Field Administration Superintendent (FAS) Joint Operating Body Pertamina – Petrochina East Java (JOB P-PEJ), Hananto Aji. Juga anggota DPR RI dari Partai Demokrat, Idaria, serta Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri (Kejari) Bojonegoro, Nusirwan.
Aroma kebebasan demikian menguat, ketika jurnalis gaek Aguk Sudarmojo, melantunkan lagu karangannya sendiri yang berjudul Banjir. Para tamu terus berdatangan saat wartawan senior yang kini bergabung dengan kantor berita Antara itu mulai menyanyikan lagunya.
“Kita disini bebas berekpresi karena malam ini temanya Kebebasan Pers, jadi kita mau ngapain aja bebas,” ujar pria yang akrab disapa Mbah Aguk usai merampungkan tembangnya.
Kesederhanaan kain lekat ketika mereka mencicipi suguhan polo pendem (makanan dari tumbuhan yang berbuah di dalam tanah) khas Kota Bojonegoro. Seperti kacang kulit, ketela, singkong, jagung, dan pisang godok.
Berbagai penampilan, dan sambutan undangan mengiasi perayaan sederhana namun tetap bermartabat itu. Orasi kebebasan, puisi, lagu-lagu pun penuh pesan kebebasan. Pula menyitir kondisi daerah yang kini menjadi kota minyak tersebut.
Seperti pembacaan puisi oleh jurnalis sarat pengalaman Didik dari JTV Bojonegoro. Pembaca puisi tentang minyak dan gas bumi (Migas) di Bojonegoro merubah suasa yang dulunya lumayan redup menjadi hidup. Pesan dari karya sastranya, mengkritisi tentang dampak-dampak yang ditimbulkan oleh Migas di daerah yang dulu dikenal sebagai kampung banjir tersebut.
Tak mau ketinggalan, Hananto Aji, melontarkan orasi kebebasan pers, serta menjelaskan bagaimana tentang pentingnya minyak yang selalu menjadi kebutuhan masyarakat sekitar.
Sementara itu, Ketua AJI Kota Bojonegoro, Sudjatmiko, mengatakan, di era modernisasi seperti saat ini jurnalis semakin berkembang pesat, khususnya di Bojonegoro. Oleh sebab itu dengan acara yang digagasnya itu, dia berharap sesama jurnalis harus saling menghargai, dan selalu menjalin hubungan dengan baik.
Jurnalis penggemar berat musik Campursari dari media Tempo ini menambahkan, jurnalis adalah sebuah mediasi, alat atau warna kepada Kota Bojonegoro.
“Pertumbuhan, dan perkembangan di Bojonegoro ini tak luput dari sorotan seorang wartawan, jadi peran wartawan itu bagus sekali,” pungkas Sudjatmiko. Selamat Hari Pers, dan Kebebasan Pers. (eky nurhadi)