SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro – Demonstrasi sopir bus di Terminal Tambak Osowilangung, Surabaya, Jawa Timur, berimbas pada penumpang diterminal Rajekwesi, Kabupaten Bojonegoro. Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro terpaksa menyediakan kendaraan alternatif untuk para penumpang tujuan Bojonegoro – Surabaya dengan tarif tiga kali lipat dari tarif biasanya.
Kepala Unit Pelaksana Tekhnis (UPT) Terminal Rajekwesi, Edi Subroto, mengatakan, akibat demo itu Dishub dalam sehari sudah memberangkatkan 20 armada dari 50 armada layak uji untuk memberangkatkan penumpang tujuan Surabaya.
“Satu kendaraan rata-rata hanya mampu menampung sebanyak 15 orang saja,†kata Edi kepada suarabanyuurip.com, Senin (4/3/2013).
Edi mengaku, tidak bisa melarang para sopir mematok tarif yang dinilai sangat mahal dari tarif biasanya. Yakni antara Rp 25.000-Rp 30.000 dalam sekali jalan. Hal itu dikarenakan para pemilik Elf atau mobil penumpang (MPU) tidak mau rugi.
“Maka dari itu kami memakluminya. Karena alasan jarak dan jumlah penumpang yang terbatas sehingga pengendalian tarif tersebut tidak bisa dihindari,†sergah dia menjelaskan. Dirinya berharap, semua tuntutan yang disampaikan awak bus bisa dipenuhi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sehingga aksi tersebut tidak lagi merugikan para penumpang yang akan melakukan perjalanan dengan tujuan Surabaya.
Terpisah, salah satu penumpang, Handoyo (40), asal Surabaya, mengatakan, tidak mengetahui aksi demo yang dilakukan oleh awak bus.. Sebab dia usai melakukan perjalanan dari Semarang bersama istri dan anaknya. Akibat demo itu, dirinya terpaksa menggunakan angkutan alternatif berupa Elf agar dapat pulang segera.
“Ya terpaksa kita mengeluarkan ongkos lebih. Ini sangat memberatkan Mbak. Tadi saja saya tanya bertiga sudah mencapai Rp 100.000,†keluh Handoyo.
Dikonfirmasi terpisah, salah satu sopir Elf, Eko (45), mengaku, senang dengan adanya aksi demo yang dilakukan para sopir bus. Karena sedikit banyak MPU mendapatkan keuntungan dari para penumpang yang melakukan perjalanan ke Surabaya.
“ Biasanya saya hanya mengangkut 5-8 orang saja, itupun sampai ke Babat. Mau tidak mau mereka harus menerima kenyataan kalau terpaksa menggunakan jasa kami,†ungkap warga Desa Kedungadem ini.
Seperti yang sudah diumumkan oleh Paguyuban Pekerja Angkutan Terminal Tambak Oso Wilangun Surabaya, bahwa pada hari ini dilakukan aksi unjuk rasa yang dilakukan di Dishub Kota, Dishub Provinsi, dan Walikota Surabaya.
Demo ini menuntut agar seluruh Angkutan Antar Kota Antar Profinsi (AKAP) OD Tambak Osowilangun efektif diberlakukan paling lambat tanggal 28 Februari 2013 sesuai hasil berita acara rapat pengalihan asal tujuan perjalanan trayek jalur pantura di Kota Surabaya sesuai hasil rapat dengar pendapat dengan anggota DPRD Kota Surabaya pada senin (18 Februari 2013).
Selain itu, aksi ini dipicu statement walikota yang menurunkan kelas type A menjadi C dinilai meresahkan warga kota Surabaya, sehingga bus yang TOW dipindah ke Bungurasih.(rien)