RINTIK hujan yang semula hanya mengurai terik siang mulai turun deras. Tanpa jeda mengguyur orang-orang yang melakukan perjalanan. Mereka pun terlihat basah kuyub, Â dan sebagian mencari tempat berteduh dari tetes air langit yang kian mengamuk.
Seorang lelaki tua berlarian mencari tempat aman. Kakinya yang renta terseok saat berlari sambil memanggul dua keranjang di pundaknya. Titik-titik air di wajahnya dia basuh dengan tangan, selepas meletakkan keranjang di halaman gedung Malowopati di kompleks Mapolres Bojonegoro.
Tanpa rasa canggung lelaki senja itu berbaur dengan beberapa petugas Kepolisian yang tengah bersenda gurau. Hujan pun mulai reda menyisakan tetes gerimis. Pak Tua ringkih membuka keranjang. Tak lama kemudian menawarkan tape yang terbungkus plastik kepada semua orang.
Tak satupun Polisi, maupun peneduh dari air hujan disana ada yang menggubrisnya. Meski begitu senyum di bibirnya yang kering menunjukkan kesabarannya dalam berdagang. Pedagang tape keliling.
Mbah Parmin, kakek yang berusia 85 tahun itu mengaku baru saja dari Desa Parengan, Â Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban untuk mengambil tape yang kemudian dijualnya kembali. Â Dia melakukan perjalananan dengan menggunakan bus jurusan Bojonegoro-Tuban tanpa membayar.
“Banyak yang kasihan dengan saya, jadi tidak bingung menggunakan angkutan apapun  untuk mengambil tape di Parengan sana,†katanya dengan logat Jawa yang kental.
Sesekali lelaki yang sebagian giginya tanggal ini terbatuk. Tampak raganya bergetar menahan dingin.
Dia berkisah tentang hidupnya. Selama ini hanya hidup berdua dengan istrinya, Tijah (70), tanpa memiliki anak, bahkan sanak saudara. Mereka dari awal menikah hingga sekarang bertahan hidup dari hasil berjualan tape.
“Kadang laku lima  bungkus kadang ya 10, satu bungkusnya Rp1.000 saja,†ungkap kakek yang tinggal di Desa Mori, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro ini.
Salah satu wartawan dari media TV lokal Bojonegoro yang melihatnya tak kuasa menahan air mata. Dia mengambil sebungkus tape, dan menyelipkan beberapa lembar puluhan ribu rupiah di tangan keriput yang lemah tersebut.
“Mbah, saya ambil satu ya. Kalau bisa batuknya segera diperiksakan, sekarang kan kalau berobat gratis jadi tidak batuk-batuk lagi,† kata Arika sambil mengelus punggung renta itu.
Terlihat senyum merekah, dan sepenggal kata ucapan terima kasih. Setelah  itu tubuh tua tersebut kembali memanggul dua keranjang untuk melanjutkan perjalanan. Menjajakan tape karena baru terjual dua bungkus saja.
“Alhamdulilah dapat rejeki, saya bisa ke Puskesmas untuk periksa, dan memberi uang untuk istri di rumah,†ujarnya sambil melambaikan tangan kepada beberapa orang.  (ririn w)