SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Keris menjadi barang sakral dalam budaya masyarakat jawa. Masih banyak orang yang mengakui tuah pusaka di jaman kerajaan itu. Salah satunya H. Subur Al- Moch. Syukron.
Dilihat dari namanya siapapun tak menyangka jika Subur Al – Moch Syukron adalah orang yang percaya dengan tuah keris. Apalagi, dengan kemajuan zaman sekarang ini, tak sedikit orang yang mau ‘mengabdikan’ hidupnya untuk mengabadikan warisan adiluhung leluhur tersebut.
Namun, anggapan itu ternyata keliru ketika suarabanyuurip.com memasuki rumah H. Subur, di Desa Titik, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Diruang tamu berukuran 5 x 7 meter itu tampak disetiap sudut ruangan penuh dengan keris. Keris yang dipajang pun beragam jenis ukurannya. Mulai ukuran kecil hingga berluk tujuh
Melangkah keruang tengah, ruang keluarga, yang dibatasi dengan tirai, hampir semua sudut dinding juga penuh sesak dengan deretan keris. Bahkan, di sebuah rak kaca yang terletak disudut ruang tamu didalamnya juga penuh berisi beraneka barang antik berusia ratusan tahun.
Ada bentuk tombak, arca berbentuk roro mendut, patung ular dan berbagai barang eksotik lainnya. Diatas rak kaca tersebut terdapat al-quran besar berukuran sekitar 100 meter X 500 meter. Al-quran yang ditutupi dengan kain warna putih itu berusia 700 tahun. Huruf arab itu ditulis dengan tulisan tangan. Konon, al-quran tersebut ditulis langsung oleh para wali songo.
 “Saya hanya nguri-nguri warisan adiluhung leluhur. Karena keris merupakan salah satu budaya asli milik bangsa ini,†kata H.Subur memulai kisahnya sambil memperlihatkan barang pusaka miliknya.
Kisah yang dituturkan H. Subur tidak bisa meluncur lancar. Karena kerap terpotong obrolan lain dengan beberapa tamu yang siang itu, sabtu (16/3/2013) berdatangan kerumahnya. Â Mereka adalah para pecinta pusaka.
Meski demkian dia dengan runtut menceritakan ihwal dirinya menyukai pusaka jaman kerajaan itu. Kesukaan mengoleksi keris itu bermula dari perjalanan panjang masa remajanya yang senang melakukan tirakat dan lelaku. Pada tahun 1971 saat usianya sekitar 20 tahun, H.Subur yang memiliki nama populer Ki Guntur Pamungkas ini menjalani lelaku mlaku (berjalan) mengelilingi hampir semua pulau di Indonesia.
Selama 4 tahun, H.Subur nglakoni mlaku hingga mengelilingi 24 propinsi. Perjalanan itu untuk menuruti kehendak hati. Dia selalu menziarahi makam-makam wali dan para kyai sepuh. Dari sana dirinya mengaku mendapat banyak bekal sehingga kemampuan spiritualnya semakin terasah.
Yang paling berkesan bagi H.Subur adalah dirinya pertama kali mendapatkan keris pusaka saat dirinya melakukan tirakatan di makam Wali Allah Sheh Subakir.
“Keris itu datang begitu saja didepan saya. Keris itu adalah ratu keris, “ kata H.Subur menerangkan.
Setelah mendapatkan keris itu, dia kembali melanjutkan perjalanannya. Dari tempat-tempat yang dia singgahi selalu memperoleh pusaka. Bahkan beberapa keris dan pusaka lainnya dia dapatkan diantaranya yaitu dari Papua.
Karena saking banyaknya keris yang dikoleksi, H.Subur mengaku tidak hafal persis berapa jumlahnya. “ Sekitar 14 ribuanlah, “ ujarnya.
Selain dipajang didinding ruangan, ternyata masih ada ribuan keris yang disimpan H Subur dibeberapa peti dikamar khusus miliknya. Dia pun tak mempedulikan anggapan minor orang lain yang mengatakan musrik karena ngrumat keris yang semuanya bertuah dan memiliki yoni.
“Yang penting saya hanya ingin nguri-nguri budaya bangsa. Dan niatan saya itu cukup Allah yang tahu, “ tutur lelaki yang memelihara kuncir hingga sepunggung ini.
Separuh perjalanan hidup H Subur banyak melakukan lelaku tirakat untuk mendapatkan keris. Hidupanya dia abdikan untuk melestarikan budaya jawa yang mulai hilang ditelan zaman modern. (bersambung)