Diharapkan Tidak Berhenti Sampai Disini

csr

SuaraBanyuurip.comEdy Purnomo

Tuban – Sebanyak 60 perempuan peserta program Corporate Social Responsibility (CSR) yang digelar PT Semen Gresik Tbk (PT SG), kini PT Semen Indonesia Tbk (PT SI),  berharap program yang dilakoni bersama Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Mereka berharap ada program lanjutan agar bisa lebih mengembangkan diri secara mandiri.

Sedangkan pelatihan yang dilakukan selama enam bulan tersebut adalah, membatik dengan bahan herbal, dan menjahit.  Peserta dari warga desa ring 1 pabrik semen yang bersentra di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

“Kami berharap setelah selesai program ini ada tindaklanjutnya, agar kami bisa mengembangkan diri untuk bisa mandiri,” kata salah satu peserta program, disela-sela penutupan kegiatan bertajuk “Pengelolaan SDA Sebagai Alat membangun dan Mengembangkan Basis Ekonomi Melalui Pelatihan dan Pendampinan Masyarakat” di Mangrove Centre, Tuban, Selasa (19/3/2013).

Peserta lain menyatakan, setelah bisa menjahit dan membatik, mereka membutuhkan modal produksi untuk memulai membuka usaha baru sesuai keahlian yang mereka peroleh dalam pelatihan yang ditutori para perempuan aktivis LSM dari KPR Tuban tersebut.  Apalagi masalah market (pasar) dari hasil kerajinan yang mereka kerjakan, dijamin oleh KPR.

Baca Juga :   Sinergi Wujudkan Kedaulatan Pangan

Pihak PT SI sendiri mengapresiasi keinginan warga desa sekitar pabrik tersebut. Melalui departeman  Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, akan memberikan bantuan pinjaman modal dengan bunga yang sangat lunak sebesar 0,6 persen per tahun.

Menurut Kabag PKBL PT SI, Edy Wiyono, program yang diberikan kepada warga masyarakat desa sekitar itu diharapkan bisa membantu warga menjadi mandiri. Melalui berbagai program pelatihan, termasuk bantuan permodalan tersebut sebagai wujud kepedulian perusahaan terhadap warga masyarakat.

Dimana pun PT SI memiliki unit usaha selalu menempatkan diri menjadi bagian dari masyarakat. Ditargetkan warga yang mengikuti kegiatan CSR pada akhirnya bisa lebih mandiri.

Sementara  itu, Tsu Warti, perempuan aktivis dari KPR menyatakan, pelatihan untuk kemandirian warga membutuhkan proses dan waktu. Selama mengikuti program memang banyak kendala juga butuh keuletan, dan keseriusan agar peserta program mampu menyerap materi pelatihan.

Program yang dibawa KPR, ungkap Tsu Warti, melalui berbagai tahapan. Semua tahapan yang telag diprogramkan menjadi bagian tak terpisahkan, sehingga program bisa tepat sasaran, dan sesuai dengan aspirasi dari masyarakat. (edp)

Baca Juga :   Warga Ngampel Terima Tali Asih

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *