SuaraBanyuurip.com – Eky Nurhadi
Bojonegoro – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur  diduga tidak fair dalam perekrutan perawat Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes) tahun 2013 ini. Kejanggalan itu terjadi pada hasil pengumuman untuk perawat Ponkesdes Sambongrejo, Kecamatan Gondang.
Di papan pengumuman disebutkan urutan pertama sekaligus dinyatakan diterima adalah, Nopyun Yetma’ul, asal Lamongan dengan jumlah skor  95. Sedangkan di bawahnya adalah Khoirul Yusuf Ade Wicaksono dengan skor yang sama harus tersisih.
Anehnya, IPK yang tercantum di papan pengumuman di Dinkes Bojonegoro, di Jalan Panglima Sudirman ditengarai berbeda dengan IPK yang dikeluarkan Akademi Kesehatan Rajekwesi. Â IPK Nopyun Yetma’ul hanya 2,9, di papan pengumuman tertulis 3,28. Padahal IPK Khoirul lebih tinggi yakni 3,19.
Perbedaan IPK itulah yang ditengarai membuat salah satu peserta gagal diterima. Rencananya, Khoirul akan minta klarifikasi terkait hasil tersebut. Kebetulan hari ini tanggal 27 dan 28 Maret 2013 akan
dilakukan tes  ulang.
“Kami akan tanyakan ke panitia soal IPK tersebut,” ujar Sholeh, keluarga Khoirul saat di konfirmasi. Rabu (27/3/2013).
Dalam rekrutmen perawat Ponkesdes ini memang diberlakukan skoring dengan memperhatikan tiga hal. Selain domisili, dan tahun kelulusan, penilain juga diberikan untuk masa pengabdian calon pelamar di lembaga kesehatan milik pemerintah.
“Nyatanya, ada pelamar yang lulus dengan IPK lebih rendah bisa diterima,” lanjutnya.
Dinkes sepertinya lalai dalam penulisan IPK. Meskipun hasil penilaian telah dibuka ke publik. Namun, pihak Dinkes pagi ini belum ada yang mau memberikan konfirmasi terkait hal itu. Para staf di sana beralasan karena Kepala Dinkes Bojonegoro, Hariono, saat ini sedang melakukan ibadah Umrah.
Meski demikian, Pengumuman yang ada di papan Informasi Dinkes yang lolos ,dan diterima adalah Nopyun Yetma’ul asal Lamongan.(had)