KICAU lemah perkutut di ranting jati, dan semilir angin membawa aroma hujan mulai menggoyang dedaunan. Gemuruh mesin di lokasi TBR-A menyedot minyak dari lokasi TBR-B, dan TBR-C seakan menghiasi alam sekitar lokasi yang masuk Blok Gundih tersebut. Tak pelak  setiap hari aktivitas operator blok geologis itu, Pertamina EP, menyuguhkan bising, dan hiruk pikuk proyeknya bagai tak terpisahkan bagi kehidupan 800 Kepala Keluarga (KK) yang menghuni Desa Kalisumber, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegotro, Jawa Timur.
Seorang petani, Hari, warga Kalisumber mengungkapkan, setelah eksplorasi TBR-A sekian tahun lalu selesai kemudian ditutup. Pada paruh tahun 2011 mulai dikerjakan lagi bersamaan dengan dimulainya pekerjaan TBR-B. Yang keduanya lokasi berada di lahan Perhutani.
Kemudian, setelah selesai melakukan eksplorasi sumur TBR-B, Pertamina EP melakukan pengembangan sumur TBR-C yang lokasinya sekira 800 meter ke arah Timur dari lokasi TBR-B tersebut. Di sumur TBR-C inilah Pertamina EP melakukan pembebasan lahan milik delapan warga desa Kalisumber untuk digunakan lokasi pengeboran sumur TBR-C.
“Seingat saya, luas lahan yang dibebaskan itu dua hektar lebih. Sesuai kesepakatan, saat proyek TBR-C dimulai dari pemilik lahan yang dibebaskan itu diperioritaskan untuk dipekerjakan semua. Yakni, sebagai tenaga security di lokasi tersebut,” kata Hari yang juga salah satu pemilik lahan yang dibebaskan untuk kepentingan proyek milik negara tersebut.
Saat Pertamina EP melakukan proses perijinan baik ijin HO maupun Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk lokasi TBR-C juga memberikan ganti untung kepada warga yang domisilinya dekat dengan lokasi TBR-C. Dengan konsekwensinya menandatangani berita musyawarah persetujuan untuk proses pengajuan izin yang dibutuhkan.
“Kalau tidak salah, kurang lebih 10 orang warga yang mendapatkan ganti untung dari Pertamina EP untuk pengurusan izin itu. Masing-masing warga mendapatkan ganti untung kurang lebih Rp500.000, Mas,” jelasnya.
Warga Kalisumber, maupun desa lain di sekitarnya sangat mafhum dnegan proyek migas. Beragam informasi yang mereka saring tentang kebutuhan minyak dan gas, sangat berpengaruh terhadap kehidupan mereka.
Entah sebentuk kepasrahan, atau bahkan moralitas tentang kesadaran bernegara yang telah membumi di sana. Yang pasti pelepasan lahyan yang menjadi hak petani secara turun temurun, terkesan tak menemui kendala berarti.
“Waktu itu dijanjikan akan diberi pekerjaan, sebagai pengganti tanah yang dibebaskan untuk proyek minyak,†kata sejumlah warga saat ditemui secara terpisah di desanya.
Di sisi lain Kades Kalisumber, M Yantoro, berharap penuh agar warganya bisa menjadi bagian dari proyek migas TBR. Entah sebagai apa, yang pasti sekira 2.000 jiwa warganya tak mau ditinggalkan begitu saja ketika geliat industri migas mulai merambah desa yang dipimpinya.
Ribuan penduduk yang menghuni Dukuh Jambe, Kalipang, Kalikrikil, dan Dukuh Kalisumber itu sebenarnya memaklumi akan potensi yang dimilikinya. Untuk itu pula, mereka tak harus meminta dipekerjakan sebagai tenaga ahli. Kendati, menjadi Satpam atau kuli bangunan pun bisa diterima oleh warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani ladang tadah hujan.
“Sekalipun, jika dirata-rata warga memiliki lahan garapan di bawah sehektar. Namun, merela memiliki sepeda motor. Sehingga, mobilisasi mereka cukup tinggi untuk ke luar masuk perkampungannya,” terang pria yang berkaca mata minus tersebut.
Celakanya, lanjut M Yantoro, hampir sekira 40 persen dari 2.000 jiwa penduduk Kalisumber berusia produktif. Namun, baru sebagian kecil saja yang sudah dilibatkan diproyek TBR. Baik sebagai Security maupun sebagai tenaga bantuan lokasi (Banlok).
“Penduduk saya rata-rata pendidikannya SMP, Mas. Sementara ini yang lulus SMA jarang,” kata Yantoro. Dia ungkapkan pula, di Desa Kalisumber hanya ada satu lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar (SD). “Untuk lembaga pendidikan SMP, dan SMA adanya di wilayah Desa Bakalan, Kecamatan Tambakrejo,” tambahnya.
Tak dipungkiri pula, meski belum terbilang maksimal, orang nomor satu di Kalisumber ini juga mengakui adanya sumur migas TBR sudah ada perkembangan untuk desanya. Semisal, jembatan yang menghubungkan Dukuh Jambe-Kalikrikil, Pengadaan listrik, pagar keliling dan penerangan makam umum.
Warga yang lahannya dibebaskan untuk lokasi TBR-C, sesuai dengan kesepakatan musyawarah saat TBR-C dieksplorasi 2012 lalu diperioritaskan untuk dilibatkan pengerjaan. Dari jumlah delapan orang yang lahannya dibebaskan masing-masing diambil satu orang perwakilan.
“Saat ini juga sudah ada mobil tangki milik warga yang dipakai untuk pengangkutan minyak mentah dari TBR menuju Cepu, Blora, Jawa-Tengah,” jelasnya. (Samian Sasongko)Â