Ngamen Untuk Sanggar Belajar Anak Putus Sekolah

ngamen-2

SuaraBanyuurip.comEdy Purnomo

Tuban – Tindakan kreatif dilakukan komunitas seni Kaleng,  Tuban. Bermaksud untuk mendirikan sanggar belajar untuk pendidikan alternatif anak putus sekolah, mereka rela mengamen dengan imbalan rongsokan dari warga di kawasan Desa Plumpang, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Rabu (3/4/2013).

Aksi ini mereka lakukan dengan memutarkan bunyi-bunyian musik dari salah satu pengeras suara yang terpasang di gerobak. Mereka berkeliling di jalan desa setempat. Agar lebih semarak, tak lupa disuguhkan performance pantomim yang diperankan dua orang.

Adanya arak-arakan ini kontan menyedot perhatian warga setempat. Dengan sukarela, warga menyumbangkan sejumlah barang bekas atau rongsokan. Terlebih saat warga tahu hasil dari mengamen itu akan digunakan untuk pendirian sanggar belajar di desa mereka.

“Nyumbang rongsokan gak seberapa mas, toh ini katanya mau dibuat untuk tempat belajar,” ujar seorang ibu kepada SuaraBanyuurip.com sambil membawa sejumlah tumpukan kardus bekas.

Kepada sejumlah wartawan, komunitas Kaleng ini mengaku, tingkah unik ini mereka lakukan karena merasa prihatin dengan banyaknya siswa putus sekolah di lingkungan mereka. Bahkan, sebelum sanggar belajar ini terbentuk, telah ada sekitar 50 anak yang akan mereka akomodir untuk dapat menikmati pendidikan alternatif ini.

Baca Juga :   Satu Pasien Positif Corona Klaster Pasar Bojonegoro Dinyatakan Sembuh

“Dengan banyaknya anak yang putus sekolah. Kami berkeinginan untuk membuka sanggar belajar alternatif yang diperuntukkan kepada mereka secara gratis,” jelas ketua Komunitas Kaleng Tuban, Bambang Budiono, ditemui disela-sela kegiatan ngamen mereka.

Ditambahkan, sanggar belajar ini rencananya akan didirikan sekitar tanggal 21 April 2013 mendatang. Sementara waktu pusat pembelajaran mereka akan ditempat dibalai desa setempat. Dengan beberapa materi pembelajaran seperti kewirausahaan, dengan tujuan semua pemuda atau anak siswa putus sekolah mempunyai alternatifg pekerjaan.

“Meski putus sekolah. Kami ingin mengajak agar anak tersebut bisa kreatif, dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang kami harap bisa berguna bagi masa depannya kelak,” tambah Bambang.

Rencananya, kegiatan ini akan terus mereka lakukan sampai tanggal 21 Juli mendatang. Harapannya, hasil penjualan rongsokan ini bisa mencukupi untuk memenuhi sarana belajar mereka sementara waktu. (edp)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *