Korban Banjir Disuruh Ambil Bantuan Sendiri

banjir truni-lmg

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan – Banjir akibat luapan air Sungai Bengawan Solo kembali menerjang Desa Truni, Kecamatan Babat, Lamongan, Jawa Timur. banjir kali ini lebih besar dari dua banjir sebelumnya.

Pantauan SuaraBanyuurip.com, banjir telah menenggelamkan ratusan hektar sawah di Truni. Sepanjang mata memandang area persawahan telah menjadi lautan air. Sementara air juga telah merendam ratusan rumah warga. Lebih dari separuh jalan desa juga tergenang air.

“Dibanding banjir sebelumnya, banjir kali ini lebih parah, Mas,“ kata Kades Truni,  Martono, kepada SuaraBanyuurip.com, Rabu (10/4/2013).

Menurutnya, luas lahan pertanian yang terendam banjir mencapai 100 hektar lebih. Untuk lahan padi sekitar 85 hektar, dan 15 hektar lainnya tanaman jagung. Petani harus mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah karena tanaman mereka sudah berusia satu bulan.

Jumlah rumah warga yang terendam banjir juga lebih banyak dari dua banjir sebelumnya. Ada sekitar  250 rumah warga (KK) yang terendam banjir. Ketinggian air  mencapai 1 meter lebih.

Pihak pemerintah desa tidak bisa melakukan tindakan antisipasi apapun, karena desa Truni berada tepat di pinggir sungai terpanjang di Pulau Jawa itu. Ironisnya tidak ada satupun tanggul yang menjadi benteng Desa Truni yang bisa menahan luapan air dari sungai tersebut.

Baca Juga :   Setiap Bulan 0,5Kg Narkoba Beredar di Blora

“Sudah berulangkali kami mengajukan usulan agar dibuatkan tanggul, baik ke Pemkab sampai ke Balai Besar bengawan Solo (BPBS) Solo, tapi tidak pernah ada tanggapan. Tanpa ada tanggul sampai kiamat Desa Truni akan tetap kebanjiran,“ ujar Martono bernada mengeluh.

Yang cukup disayangkan, disaat mengalami bencana banjir tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, tidak langsung turun memberikan bantuan. BPBD memberikan bantuan jika perangkat desa mengambil sendiri ke Lamongan.  Tentu saja ini sangat menyulitkan kades dan perangkat desa Truni. Karena mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk menyewa mobil mengambil bantuan ke BPBD Lamongan.

Beberapa kali Martono berkoordinasi dengan camat Babat Jarwito yang memberikan intruksi agar kades mengambil bantuan ke BPBD Lamongan. Martono hanya bisa pasrah mengiyakan karena kondisinya yang terjepit.

“Akan dapat bantuan dari BPBD sebanyak 250 paket. Tapi disuruh mengambil sendiri di BPBD. Terus nanti disuruh ngetem (berhenti) dikantor Kecamatan, karena menunggu Bupati yang akan meninjau banjir di Truni,“ ujar Martono sambil menghela nafas berat. (tok)

Baca Juga :   Tanggul Kritis Warga Lakukan Kerja Bakti

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *