SuaraBanyuurip.com – Eky Nurhadi
Bojonegoro – Hampir seluruh masyarakat kini sudah menggunakan LPG sebagai bahan bakar untuk rumah tangga. Namun, karena stok subsidi untuk LPG 3 kilo gram (kg) saat ini berkurang dan harganya mulai naik, masyarakat kembali beralih menggunakan kayu bakar dan minyak tanah sebagai bahan bakar memasak.
Seperti yang dilakukan Bu Sri, Warga Jalan KH. Rosyid, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dia mengungkapkan, akibat langkanya LPG 3 Kg di pasaran dirinya terpaksa beralih seperti dulu menggunakan kayu bakar.
“Kalau dulu, masyarakat masih takut meledak menggunakan LPG, tapi sekarang sudah mulai terbiasa malah stoknya dikurangi,” keluhnya sambil memasak menggunakan kayu bakar diwarungnya, Selasa (23/04/2013).
Bu Sri mengaku, mulai kesulitan mendapatkan tabung LPG 3 kg sejak dua bulan terakhir. Selain sulit didapat, harganya juga mulai ada peningkatan. Ibu satu anak itu mengatakan, setiap harinya ia membutuhkan satu tabung LPG untuk memasak diwarung.
“Tapi kalau tabung sulit didapat terpaksa lebih mengirit dan menggunakan kayu bakar yang lebih murah,” lanjutnya.
Sementara, salah seorang pemilik agen LPG, UD Makmur, Pangkalan LPG Wikanto, jalan Wr. Supratman, Kecamatan Bojonegoro, Wiwik mengatakan, saat ini perhari ia hanya mendapat jatah satu truk yang berjumlah 562 tabung gas LPG.
“Jatah satu truk itu satu jam sudah habis. Biasanya untuk mencukupi pelanggan jatah dua truk,” sambung Wiwik.
Minimnya jatah tabung gas LPG 3 kg itu secara langsung juga mempengaruhi harga jual. Sekitar dua bulan lalu harga gas LPG 3kg senilai Rp 12.200, namun kini sudah mencapai Rp14.000.
“Naiknya LPG 3kg ini karena barang sulit didapat, sehingga kita menjemput bola untuk mendapatkan tabung LPG,” lanjut Wiwik.
Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Bojonegoro, menyebutkan, jatah LPG 3 kg di Bojonegoro saat ini sebanyak 5.200.000. Jumlah ini menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni sebanyak 5.263.000 pertahun.
Kepala Disperindag Kabupaten Bojonegoro, Bamban Suharno mengungkapkan, memang jatah LPG 3kg dari Pertamina saat ini ada pengurangan. “Kita sudah mengusulkan untuk tahun depan agar ada penambahan jatah,” jelasnya.
Padahal LPG 3 kg ini merupakan program konversi untuk menggantikan minyak tanah. Program itu mulai diterapkan pemerintah berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 104 Tahun 2007 dengan membuat suatu kebijakan dalam rangka mengurangi subsidi energi, yaitu konversi minyak tanah bersubsidi ke LPG 3 kg.(had)