SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Karya seni yang mengadopsi kultur lokal bakal menggambarkan kondisi kedaerahan. Mulai dari gerak langkah, maupun beksa di dalamnya menjadi simbul kultural daerah tempat karya tari dilahirkan. Â
Pula dengan Tari Ngincik. Â Tari yang pentaskan para perempuan muda asal Lamongan, Jawa Timur ini terasa kental dengan kultur wong (orang) Lamongan. Di sana dengan mudah tergambar tentang semangat kerja yang dimiliki warga Kota Soto tersebut.
Kendati demikian, menurut sang kreator Tari Ngincik, Â Ninin Desintasari, dan Tri Kristiani, tarian ini berlatar belakang dari kesenian tradisional asli Lamongan, Tari Kepang Dhor, yang kemudian dikemas sedemikian rupa. Ngincik sendiri menggambarkan gerakan kaki kuda saat berjalan dengan langkah kecil, tapi cepat dengan dua gerakan, feminim, dan gagah.
Bagi Ninin, genre seni tari bertajuk Ngincik lebih menggambarkan karakter wong Lamongan yang pekerja keras, tangguh, namun juga sederhana.
“Banyak orang Lamongan yang sukses dari bekerja di perantauan. Orang yang tidak memiliki jiwa pekerja keras, dan tangguh tidak akan mungkin sukses bekerja di luar pulau,“ ujar Ninin.
Dalam peringatan Hardiknas, Kamis (2/5/2013), Tari Ngincik dipentaskan oleh 160 anak dari 36 SD, dan MI di Lamongan. Penari-penari cilik itu dengan membawa properti kuda-kudaan dari anyaman bambu, terlihat rancak menari. Dengan gerakan lincah dan sekaligus gagah, penampilan mereka menggundang tepuk sorak undangan yang hadir. (tok)