SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan -Setelah sekian lama menunggu tidak ada bantuan dari pemerintah, petani yang sawahnya terendam banjir luapan Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur memulai melakukan tanam padi. Mereka rela berhutang sebagai modal untuk bercocok tanam.
Seperti yang dilakukan petani di wilayah Kecamatan Babat. Akibat banjir yang terjadi sekitar 3 minggu lalu para petani harus melakukan tanam ulang. Sebab tanaman padi mereka yang rata-rata masih berumur 3 minggu mati. Kerugian yang diderita mereka mencapai puluhan juta rupiah untuk modal tanam, seperti pembelian pupuk dan biaya perawatan.
Tomo, salah satu petani asal Desa Sumurgenuk, Kecamatan Babat, mengaku, harus mencari pinjaman modal senilai Rp7 juta untuk memulai tanam. Dana tersebut dipergunakan untuk membeli bibit, biaya semai, pupuk dan upah tenaga kerja.
“Itu belum terhitung biaya yang saya keluarkan sebelumnya untuk nyedot air yang masih merendam sawah, kemarin habis Rp1,2 juta,†ujar Tomo kepada suarabanyuurip.com, Jumat (3/5/2013).Â
Saat ini Tomo tengah menanam semaian padi bersama 8 orang tenaga kerja. Setiap pekerja dia upah Rp25 ribu. “Itu untuk upah setengah hari,†sergah dia.
Tomo mengaku terpaksa kembali tanam padi walau harus dengan modal hutang karena hanya bercocok tanam yang menjadi gantungan hidup keluarganya. Dirinya hanya berharap, hasil panen yang dia tanam kali ini bagus sehingga bisa digunakan untuk membayar hutang dan biaya hidup sehari-hari.
“Bupati seakan tidak mau tahu penderitaan orang kecil,†keluh Tomo yang mensayangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan yang tidak memberikan bantuan kepada petani yang dilanda banjir.
Petani lain, Safar, juga mengalami nasib sama. Meski setiap hari masih hujan, dirinya memutuskan untuk kembali memulai tanam. “Modalnya ya cari utangan. Nyekolahkan petok (surat) tanah. Bayarnya habis panen,†ungkap petani bertubuh kerempeng ini. (tok)