SuaraBanyuurip.com -Â
RINAI gerimis yang mengguyur Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur sedari malam tak membuat surut niat puluhan pemuda di perkampungan wilayah Bojonegoro bagian timur. Satu persatu mereka keluar dari rumah dan berkumpul dipinggir jalan setempat. Penampilan mereka seragam. Memakai baju koko dan songkok putih.
Para pemuda itu juga memakai atribut lengkap. Membawa bendera hijau dan putih berukuran sedang bertuliskan “Syekher Mania Bojonegoroâ€. Â
Mereka adalah Syekher Mania, fans Habib Syekh Abdurrahman Assegaf asal Solo, Jawa Tengah. Lewat suara merdu bacaan salawat yang dilantunkannya, Habib Syekh Abddurrahman Assegaf sudah mampu memikat jutaan umat di Indonesia selama tiga tahun terakhir ini. Di Bojonegoro sendiri, komunitas Syakher Mania mulai terbentuk pada 9 November 2009 lalu dengan jumlah anggota mencapai ribuan.
Komunitas ini selalu aktif menghadiri Majelis Salawat “Malam Cinta Rasul”. Seperti kegiatan Malam Cinta Rasul yang lima bulan terakhir ini sering digelar di Kota Minyak dan Gas Bumi (Migas) seperti Bojnegoro, Tuban dan Lamongan. Setiap kegiatan berlangsung dipenuhi ribuan Syekher Mania. Mereka larut dalam senandung salawat. Â
Syekher Mania pun berkembang pesat. Mereka menjalin komunikasi dan bersilaturahmi antar komunitas syekher didalam dan luar Bojonegoro untuk mengajak kaum muda didaerah mentauladani Rasulullah SAW. Tak heran setiap kali majelis salawat dilaksanakan didalam maupun diluar Bojonegoro, ribuan pecinta Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaff ini selalu hadir.
“Melalui komunitas ini, kami ingin ikut serta mensyi’arkan Tauladan Nabi Muhammad SAW melalui dakwah yang diungkapkan dalam lantunan sholawat, qoshidah, dan burdah dengan iringan musik rebana,”kata Ketua Syekher Mania Bojonegoro, Abdul Rouf.
Berkembang selama tiga tahun, keberadaan Syekher Mania telah diakui. Buktinya Syekher Mania yang berpusat di Jakarta diketuai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan. Sedangkan di Jawa Timur di Ketuai Wakil Gubernur, Saifullah Yusuf yang membawahi 30 kota/kabupaten.
“Di Bojonegoro komunitas ini sudah diketahui Bupati Suyoto. Kami harapkan bapak bupati mendukung kegiatan ini untuk bersama-sama membentengi moral para generasi muda,” harap Rouf.
Siapapun mengakui, berkembangnya zaman sekarang ini telah banyak menjadikan prilaku pemuda menyimpang dari ajaran islam. Seperti narkoba, seks bebas, minuman keras, dan tawuran seakan lekat dengan pemuda. Hal itu dikarenakan lemahnya keimanan yang menjadi benteng mereka.
“Apalagi disini akan menjadi industrialisasi migas, jadi komunitas ini dapat menjadi sarana yang tepat untuk membentengi para pemuda dari dampak negatif,” sergah Rouf.
Bagi Syekher Mania, tak mempermasalahkan adanya industrialisasi migas di Bojonegoro. Namun perubahan itu harus diimbangi dengan benteng yang kuat agar industrialisasi migas tak mengancam degradasi moral generasi muda.
Sebab sudah bisa dipastikan keberadaan industri migas ini akan mendatangkan budaya asing dengan datangnya para ekspatriat pekerja migas. Jika tidak diantisipasi mulai dari sekarang budaya itu akan menggerogoti nilai-nilai keislaman yang menjadi budaya masyarakat pribumi.
“Masyarakat Bojonegoro sekarang ini seperti silau melihat proyek minyak di sekitar desanya, khususnya warga yang dekat proyek minyak ,” ungkap dia.
“Budaya asing ini sebuah ancaman yang harus segera diantisipasi bersama. Caranya adalah dengan membentengi hati kita dengan sering bersalawat. Karena dengan bersalawat kita mendapatkan ketentraman dan ketenangan,†lanjut Rouf.
Untuk menggemakan budaya bersalawat ini para habib dan riabuan syehker di Bojonegoro mulai kerap melakukan gebyar salawat. Diantaranya di wilayah Bojonegoro bagian timur, yakni Kecamatan Baureno, Kanor, Kepohbaru, Sumberjo dan Balen. Sementara diwilayah selatan di Desa Sekar dan Kecamatan Temayang serta di wilayah barat di Alun-alun Bojonegoro.
“Kami berniat menjadikan Bojonegoro menjadi bumi yang penuh dengan bacaan selawat,” tandasnya.
Sementara itu, Habib Abdul Qodir Bin Zen, mengungkapkan, kegiatan selawat bagi para pemuda itu perlu terus dikembangkan. Sebab, dua tiga tahun lagi kota Bojonegoro diprediksi akan berkembang pesat dengan adanya industrialisasi migas. Baik perkembangan ekonomi maupun budaya masyarakat.
“Oleh karena itu, saya mengharapkan para pemuda terus bersemangat dan mengembangkan bacaan-bacaan selawat di Bojonegoro,” ujar Habib asal Desa Kauman, Kecamatan Baureno in yang sering memberikan ijazah-ijazah (pesanan) kepada para pecinta selawat Habib Syekh.
Pada bagian lain, Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragam (FKUB) Bojonegoro, KH Alamul Huda juga berharap, para Syekher Mania di Bojonegoro terus membangkitkan budaya berselawat dikalangan pemuda. Sebab, 30% pemuda di Bojonegoro saat ini tingkah lakunya masih nakal.
“Pokoknya terus dikembangkan, Migas disini akan mengancam degradasi moral masyarakat, khusunya para pemuda,”tegasnya. (eky nurhadi)