SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro- DPR RI meminta agar gas unitisasi Jambaran-Tiung Biru (TBR) dan terintegrasi Lapangan Cendana diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri.
“Kami minta yang ekspor jadi prioritas kedua saja,” ujar Anggota Komisi VII DPR RI Satya Wira Yudha saat dihubungi Suarabanyuurip.com Minggu (19/5/2013).
Menurut dia, hingga saat ini harga gas untuk proyek unitisasi belum ditentukan. Dalam hal ini penentu harga adalah pemerintah. Sedangkan DPR hanya sebatas berwenang melakukan kontrol.
“Kita hanya memonitoring saja,” kata pria yang juga anggota komisi Energi ini.
Politisi Partai Golongan Karya (Golkar) ini belum bisa menyebut perkiraan harga yang diusulkan kepada pemerintah.
“Harga tidak boleh disebutkan dulu, karena masih dalam negoisasi,” tegas Satya.
Namun demikian, gas unitisasi bisa saja diekspor bilamana kebutuhan dalam negeri dirasa telah terpenuhi. Seperti halnya LNG yang digunakan untuk PLN.
Satya meminta agar operator utama proyek unitisasi, Pertamina EP Cepu (PEPC) bisa memberikan dampak yang saling menguntungkan.
“Dari dulu saya meminta Pertamina sebagai operatornya, karena di lapangan unitisasi Pertamina yang memiliki wilayah paling besar,” tuturnya.
Untuk diketahui, PEPC merupakan operator utama proyek unitisasi Jambaran-TBR. Sedangkan Lapangan Cendana dioperatori Mobil Cepu Ltd (MCL). (roz)