SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro- Mahalnya harga gas LPG ukuran 3 Kilogram (Kg) juga dirasakan sebagian warga di sekitaran lokasi proyek Banyuurip, Blok Cepu. Akibatnya, sebagian warga disekitar pemboran migas yang konon memiliki kandungan minyak terbesar se Asia itu beralih ke kayu bakar. Â Â
Seperti yang dilakukan Sarni, Salah satu warga Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Sarni mengaku, untuk kebutuhan bahan bakar dapurnya setiap hari dia beralih ke kayu bakar. Sebab, selain sulit didapat, harga LPG 3 Kg juga mahal. Pertabungnya seharga Rp17.000 – Rp20.000. Â
“Sebelumnya hanya Rp 14 ribu. Tapi dua minggu ini harganya naik,†kata Sarni kepada suarabanyuurip.com, Rabu (22/5/2013).
Meski begitu, Sarni megaku terpaksa tetap membeli bahan bakar bersubsidi tersebut khusus untuk berjualan. Namun untuk menghemat, dia menggunakan kayu bakar untuk kperluan dapur rumah tangga.
“Untuk masak dirumah saya hemat dengan menggunakan kayu bakar. Kalau tidak begitu ya tidak cukup,” ungkap wanita yang membuka warung disekitar proyek Banyuurip ini.
Dia menceritakan, setiap pagi menyempatkan untuk mencari ranting kayu disela pepohonan tak jauh dilokasi proyek Banyuurip. “Ya susah juga Mas, kalau mahal gini. Karena selama ini warga kadung menggunakan LPG,†tutur ibu tiga anak ini.
Menurut Sarni, alasan dari toko atau agen, mahalnya LPG karena telatnya pengiriman dan langka dipasaran. Walaupun begitu, Â dia mengaku tidak menaikkan jualanya.
“Harga jualan masih tetap seperti umumnya,” pungkas Sarni. (roz)