SuaraBanyuurip.com -Â Samian Sasongko
Bojonegoro – Seperti magnet, keberadaan proyek minyak Banyuurip mampu menggaet warga dari dalam maupun luar Bojonegoro. Mereka berdatangan ingin meneguk manisnya emas hitam di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Baik itu perusahaan kecil hingga berskala nasional, perorangan maupun kelompok.
Seperti yang dilakukan, Sugianto, penjual gerabah keliling. Warga Kabupaten Jombang, Jawa Timur, itu nekad datang ke desa-desa sekitar Lapangan Banyuurip untuk menjajakan dagangnya. Dengan membawa delapan buah gentong dari tanah liat yang dimuat sepeda pancal, pria paruh baya itu menyusuri lorong jalan di desa sekitar pemboran.
“Sudah seminggu lalu saya datang kesini,” kata Sugianto saat istirahat di Warung Kopi depan Kantor Kecamatan Gayam, Senin (27/5/2013).
Sambil mengusap peluh di wajahnya, Sugianto mengaku, dagangannya lumayan laku. Dari delapan buah genuk (sebutan lain gantong dari tanah liat) yang dia bawa, 6 buah sudah laku terjual.
“Rata-rata sehari laku satu, mas,” sergah prria yang mengaku berasal dari Desa Ploso, Jombang ini.
Hidup sebagai penjual gerabah sudah dilakoni Sugianto sejak dua tahunan silam. Dia berpindah dari satu kabupaten ke kabupaten lain dengan mengayuh sepedah onthel untuk menjual dagangannya.
Harga gerabah yang Sugianto tawarkan bervariatif. Sesuai besar kecilnya grabah. Sedangkan penghasilan yang dia peroleh tergantung banyak sedikitnya barang yang terjual. Artinya, jika dagangan yang terjual banyak maka upah yang diterima Sugianto juga banyak. Pun sebaliknya.
Setiap harinya Sugianto mengaku dapat mendapatkan uang dari menjual gerabah antara Rp.100 ribu sampai Rp200 ribu. Dengan pendapatan itu, setiap bulan dia bisa memperoleh upah Rp500 ribu sampai Rp 1 juta.
“Saya tinggal menjualnya dari teman, Mas. Sedangkan dimana kulakanya saya tidak faham. Informasinya di Bojonegoro,” ujar Sugianto, menerangkan.
Meski sarat beban hidup, tak ada guratan kekecawan diraut wajah Sugianto. Dia melakoni pekerjaan itu dengan senang hati. Karena selain sebagai tulang punggung keluarga, hanya pekerjaan sebagai tukang gerabah yang bisa dilakoni Sugianto. Dia pun terpaksa meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu sampai daganganya habis.
“Sudah biasa, Mas. Walau berat, asal dijalani dengan senang semua terasa ringan,” tuturnya.
Sugianto mengungkapkan, tujuannya berjualan gerabah di wilayah Kecamatan Gayam ini, selain ingin mengetahui langsung pemboran Migas Blok Cepu juga ingin turut mengais rejeki dari warga sekitar proyek negara tersebut.
“Meski warganya banyak yang mampu-mampu ternyata orangnya baik-baik tidak ada yang memperlihatkan kesombongan. Hanya saja, jalannya yang masih kurang bagus. Karena, banyak badan jalan yang mulai retak-retak dan perlu dibangun, Mas,” pungkas Sugianto sesaat sebelum meninggalkan warung kopi dan menerobos terik matahari.(sam)