Suara Gamelan di Tengah Ladang Minyak

campursari

aku wis ngaku salah kondo saknyatane

soko ati ramung ono lambe

geni sing ning ati enggal disirami

yo ben adem koyo dek wingi…

SEBAIT tembang Ojo Sujono empunya Didik Kempot menerobos ruang di siang berawan di desa samping lapangan minyak Banyuurip, Blok Cepu, di Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.  Suara vokalisnya memang tak begitu menerkam batin, namun matahari yang muncul tenggelam digiring mendung bagai larut dalam irama tembang.

Sesekali terdengar petani muda menirukan tembang, meski tak seiring dengan tetabuhan gamelan yang dihelat grup kesenian Campursari Indra Laras di kala berlatih, di markas di salah satu sudut kampung Begadon tersebut. Tampak sembilan penabuh gamelan, dan seorang biduanita antusias mematangkan diri sebelum pentas.  

Di sisi lain panasnya hawa dari perut bumi tempat mereka berpijak masih mewariskan gelegak emosi. Terlebih setelah anak-anak yang masih trah kesekian penganut aliran Samin ini, tak bisa berbuat apa-apa disaat industri minyak dan gas bumi merampas hamparan tanah leluhurnya. Semuanya demi industri yang konon untuk kepentingan negara.

Hadirnya suara tetabuhan, dan lantunan tembang Jawa di sekitar ladang minyak menjadi warna tersendiri dari desa yang kini menjadi kota minyak. Geliat industri berikut hiruk pikuknya proyek, seperti menemukan air disaat haus di padang tandus.

Seni tradisi warisan leluhur memang memiliki warna, sekalipun harus ditempakan di tengah kerasnya industri minyak. Untuk itu pula, bagi pelaku Campursari Indra Laras, harus diuri-uri  dipertahankan hingga akhir jaman. Setidaknya saat ini telah mewarnai gegap gempitanya industri migas di desa tepian hutan jati yang telah meranggas tersebut.

Baca Juga :   Perjalanan Panjang Perempuan Pembatik

“Campursari Indra Laras baru dirintis sejak pertengahan tahun 2012 silam, Mas. Karena itu, perlu berlatih terus agar bisa kompak dan cepat menguasai setiap lagu atau gending-gending jawa yang ada,” ungkap Indra Wahyu yang mahir menyabet kendang jaipong itu disela acara latihan.   

Bagi lajang yang masih membesut pendidikan di SMK di wilayah Purwosari, Bojonegoro ini, seiring perjalan waktu dan perkembangan jaman semakin modern yang mulai mengikis budaya Jawa tak harus disikapi dengan patah semangat. Realitas itu harus dipakai untuk memupuk semangat dalam mempertahankan budaya peninggalan nenek moyang.

“Saya tidak terpikat dengan proyek migas Banyuurip ini, Mas. Saya kepingin melestarikan budaya peninggalan nenek moyang, agar tidak punah ditelan perkembangan jaman,” kata Indra Wahyu yang juga pimpinan Campursari Indra Laras ini serius. 

Pengendang cilik yang baru menapak usia 15 tahun itu mengatakan, kecintaanya pada budaya Jawa telah muncul sejak masih duduk di bangku SMP. Didasari dengan niat yang tulus meski banyak rintangan dalam berkesenian namun akan terus dilakukan. Agar, kesenian kebanggaan warga Jawa ini tidak tergerus oleh budaya asing, maupun seni modern lainnya.

Pria muda bersahaja ini berkesenian secara otodidak. Dia belajar mengendang tana melalui kursus, namun lebih pada berlatih rutin secara manual.   

“Sedangkan untuk latihan Campursari dilakukan setiap hari libur, agar tidak mengganggu aktifitas  anggota dan sekolah saya,” terang Indra, sapaan akrabnya.

Semilir angin menggoyang reranting pohon di setiap sudut desa ring satu Banyuurip itu. Seakan menghiasi rampak harmoni tetabuhan gamelan. Suara Saron, Peking, meningkahi kendang sabet yang ditabuh Indra Wahyu.

Baca Juga :   Memungut Rembulan di Tengah Pesta Bhayangkara

Lembut suara organ terdengar di depan, sesekali di belakang vokal sang pesinden, kian menjadikan kesejukan suasana desa. Bagai menenggelamkan deru mesin pemboran, dan ramainya hiruk-pikuk kendaran yang berlalu-lalang di proyek Blok Cepu.

Kelompok Campursari Indra Laras, menurut pimpinan Karawitan Madu Laras, Kastur, merupakan bagian dari karawitan yang dipimpinnya. Pemunculannya pada tahun 2012 itu sebagai bagian dari kreasi karawitan agar dalam setiap pentasnya lebih diminati warga. Dengan jumlah anggotanya sebanyak 10 orang yang semuanya adalah warga Begadon.

Alhamdulillah, meski bisa dikatakan baru namun sudah banyak yang nanggap, Mas,” ujar Kastur yang juga perangkat Desa Begadon. Untuk bulan depan ini sudah ada calangan tanggapan lebih dari 10 orang. Tanggapannya dalam hajat khitanan maupun pesta pernikahan.

Matahari berada di ubun-ubun. Alunan musik campursari masih menyelimuti siang berawan. Aktifitas di sumur minyak Banyuurip belum ada tanda usai, pun petani di sekitarnya masih membajak ladang. Sayup-sayup suara biduanita Campursari Indra Laras masih terngiang. Mewarnai siang yang masih menyisakan separuh perjalanan.  

ronce-ronce melati benange lawe

pupus klapa sing ngelingke

nganti tuwa aku isih tresna kowe

snadyan ana coba sepira akehe…

Tembang Ojo Sujono masih terdengar, meski tinggal menyisakan beberapa bait pemungkas. Seni tradisi Jawa gamelan, telah melahirkan sempalannya, Campursari, yang hingga kini diuri-uri agar tak punah digerus kejamnya peradaban modern.  (samian sasongko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *