SUNTI’AH, 39 tahun, tampak telaten mengawasi pekerjaan beberapa pelajar yang membatik di tempat usahanya, di Desa Sumurgung, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Ada tiga pelajar terlihat asyik menikmati belajar membatik di bawah arahan langsung dari Sunti’ah pagi itu.
“Adik-adik ini mau belajar batik, Mas,†kata Sunti’ah, ketika menemui Suarabanyuurip.com di tempat usahanya.
Deru suara sejumlah mesin jahit terdengar dari lantai dua tempat usahanya. Tempat ini memang tergolong besar. Selain menjadi tempat produksi, juga digunakan untuk butik yang menjual beraneka macam batik. Mulai dari batik yang masih berupa kain, hingga dalam bentuk baju siap pakai.
“Omset saya tertinggi tahun ini pada bulan Juli lalu, yaitu 1,009 milyar. Dengan omset segitu, saya mendapatkan untung Rp137 juta, Mas,†kata perempuan yang lahir di Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban.
Angka fantastis bagi siapapun yang mendengarnya. Terlebih keuntungan rata-rata dia dalam satu bulan tak kurang dari Rp100 juta. Saat ini karyawan yang bekerja di Batik Royan, begitu dia memberi nama usahanya sesuai dengan nama anaknya, berkisar antara 200 orang lebih. Menyebar di beberapa desa yang ada di Kabupaten Tuban.
Dibutuhkan kerja keras untuk menggapai suatu keberhasilan. Pepatah ini ternyata bukan isapan jempol, bahkan dialami sendiri oleh seorang Sunti’ah. Ibu dua putra ini  harus melewati perjuangan panjang bersama suaminya, Ikhwan, untuk menggeluti bisnis pakaian batik.
Perjalanan panjang Sunti’ah dimulai pada kisaran tahun 1988. Saat itu, dia memutuskan keluar dari pekerjaannya menjadi karyawan salah satu pabrik yang ada di kota Sidoarjo. Bingung karena menganggur, dia kemudian didatangi mertuanya dan diberi satu plastik besar berisi pakaian untuk dijual kepada tetangga.
“Saya ingat ketika itu bulan puasa, jadi saya jual pakaian dari mertua dengan berkeliling kampung,†kata Sunti’ah mengenang masa awal merintis usaha.
Usaha Sunti’ah waktu itu mulai berjalan. Berbekal modal yang dia dapat dari hasil jualan baju pemberian mertuanya yang ternyata seorang pedagang pasar. Dia kemudian memutarnya dan dibelikan baju lagi sebagai modal tukang kredit baju keliling.
Di tengah perjalanan usahanya sebagai pedagang keliling. Dia mulai melihat potensi batik yang banyak dihasilkan di daerahnya. Sunti’ah kemudian mengutarakan maksudnya untuk belajar membatik supaya bisa menambah koleksi dagangannya.
Bimbang mulai menggelayuti Sunti’ah. Perempuan desa ini merasa berat karena diharuskan membayar Rp300 ribu untuk belajar membatik. Nilai tersebut merupakan angka yang besar bagi keluarganya, pada kisaran tahun 2000 itu hidup serba pas-pasan. Dia berpikir untuk menggagalkan pelatihan itu dan berkeinginan untuk memutar uang tersebut sebagai modal.
“Ilmu itu mahal, dan pasti akan bermanfaat kelak,†kata Sunti’ah, menirukan kata-kata suaminya yang mendorong dia untuk membulatkan tekad belajar membatik.
Berbekal dorongan dari suami, dia kemudian mulai belajar membatik kepada salah satu pengrajin yang ada di tetangga desanya. Hanya butuh waktu satu minggu, Sunti’ah sudah bisa membuat batik hingga jadi. Dari hasil pelatihannya, dia menghasilkan lima potong kaos batik yang kemudian dia jual dengan harga Rp12 ribu per potong.
“Kaos itu saya tawarkan ke pedagang di makam Sunan Bonang dapat uang Rp60 ribu, pokoknya saya buang rasa malu menawarkan dagangan,†ungkapnya.
Melihat adanya minat dari pedagang yang jualan di makam wali tersebut, Sunti’ah mulai berpikir untuk mengembangkan usahanya ke kaos batik. Dia pun meminta suaminya supaya mengambil batik dari salah satu pedagang besar yang ada di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
“Suami saya langsung berangkat ke Lamongan, antri untuk Kulak’an dari pedagang besar satu-satunya itu,†terang Sunti’ah.
Berbekal uang sekitar Rp1 juta, suaminya berangkat ke Lamongan. Ternyata sang suami pulang dengan tangan hampa. Padahal saat itu Ikhwan sudah antri selama satu hari penuh.
“Kalah dengan pedagang-pedang lain yang sudah besar, suami saya seperti nggak dianggap karena orang baru,†kenangnya.
Sempat putus asa untuk menggeluti bisnis kaos karena kesulitan bahan. Sunti’ah pun kembali menggeluti usaha kredit baju kelilingnya menggunakan sepeda onthel. Di tengah melakoni pekerjaannya dia menyadari, kalau sebenarnya dia bisa menjahit kaos itu sendiri dan juga membatiknya.
“Kalau dihitung, keuntungan dari hasil produksi sendiri lebih besar daripada ambil dari pedagang besar,†jelas Sunti’ah.
Dengan uang yang masih terbatas, dia pun bertekat untuk membeli mesin jahit. Tapi karena saat itu dia belum bisa menjahit, Sunti’ah pun mengajak seorang penjahit untuk bekerja bersama dia. Tapi tawaran Sunti’ah ini justru mendapat tanggapan yang sinis, karena penjahit itu ragu usaha Sunti’ah akan berhasil.
Akhirnya masalah ini terpecahkan, saat seorang tetangganya berbaik hati mau mengajarinya menjahit secara gratis. Inilah yang kemudian menjadi awal Sunti’ah menekuni produksi batik dan menjualnya sendiri.
Pesanan banyak yang berdatangan. Sunti’ah yang melakukan pekerjaan itu sendiri sempat beberapa kali dimarahi suaminya. Akibat terlalu larut dalam bekerja hingga tengah malam.
“Saya kalau kerja kata suami lupa waktu, jadi dia sempat marah,†kata Suntiah seraya tersenyum.
Usaha Sunti’ah mulai berkembang. Dia pun mulai bereksplorasi dalam memilih bahan-bahan batik dan penggunaannya. Hingga pada kisaran tahun 2003, dia nyaris gulung tikar setelah membeli kain dengan jumlah besar, namun kain dengan jenis baru tersebut tidak bisa digunakan untuk membatik.
“Saya membeli kain tersebut karena tergiur harga murah tapi kelihatan bagus, tapi ternyata tidak bisa dibatik sehingga modal saya langsung putus,†katanya mengenag kebangkrutannya.
PT SI dan Kebangkitan Bisnis Sunti’ah
Tak ada gading yang tak retak. Begitulah usaha Sunti’ah saat itu. Setelah beberapa kali jatuh dan mengalami kegagalan. Tekat perempuan ini seperti baja. Dia mulai merintis kembali usahanya dengan modal seperti awal. Untuk menyiasatinya dia kemudian menyablon kain yang sudah terlanjur dia beli dan dijual dengan harga yang murah.
Pada tahun 2007, dia pun memberanikan diri untuk meminjam modal kepada PT Semen Indonesia Tbk. Meski tidak menyebutkan jumlahnya, tapi dia ingat betul kalau modal itu digunakan untuk membeli tambahan mesin jahit.
“Saya pinjam PT Semen Gresik (PT SI), saat itu untuk membeli tambahan mesin jahit supaya produksi saya bisa bertambah banyak,†terang Sunti’ah.
Setelah mendapat pinjaman dari PT SI inilah, Sunti’ah kemudian mulai lagi mengembangkan usahanya supaya besar. Selain itu, dia mulai disertakan untuk mengikuti pameran yang diadakan oleh perusahaan.
“Saya memanfaatkan (pameran) itu,†kata Sunti’ah.
Dengan mengikuti pameran dimanfaatkan Sunti’ah untuk membangun jaringan yang ada di luar Tuban. Sunti’ah juga menceritakan pengalaman ketika ada pembeli dari Belanda mendatangi stand pamerannya di Jakarta dan langsung membeli barang dagangannya saat itu.
“Saya diikutkan setiap ada pameran atau expo, sehingga saya bisa menembus pasar luar Tuban,†tutur Sunti’ah.
Saat ini penjualan batik Sunti’ah sudah tidak main-main lagi. Bahkan saat ini batik dengan merek Royyan tersebut telah merambah pasar Surabaya, Jakarta, Bandung, Sumatera, dan juga Kalimantan.
“Sudah banyak yang dilempar (dijual) ke luar wilayah Tuban, termasuk luar jawa,†tandasnya.
Kepala Seksi (Kasi) Hubungan Internal dan Media PT SI, M Faiq Niyazi, mengatakan, kalau perusahaan mempunyai banyak binaan Usaha Makro Kecil dan Menengah (UMKM). Mereka merupakan pengusaha yang berasal dari berbagai bidang. Termasuk diantaranya adalah Sunti’ah dengan bisnis batiknya.
“Perusahaan berharap UMKM yang ada bisa berkembang seperti batik Royyan,†kata Faiq, kepada sejumlah wartawan.
Ditanya mengenai keberhasilan Sunti’ah merintis usahanya, Faiq mengatakan,  apresiasinya dan berharap supaya hal ini menjadi teladan bagi pelaku usaha yang lain.
“Kita harap ini bisa menjadi teladan dan motivasi bagi pelaku usaha yang lain. supaya bisa mencontoh ibu Sunti’ah dan beberapa pengusaha sukses yang lain,†tandas Faiq. (edy purnomo)