SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Lamongan – Kabar akan naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) meresahkan para penjual bensin eceran. Jika boleh memilih mereka lebih suka jika harga BBM khususnya bensin tidak jadi naik.
Sejumlah penjual bensin eceran di beberapa wilayah Lamongan yang ditemui SuaraBanyuurip.com mengaku, ketir-ketir (was-was) dengan kebijakan pemerintah yang akan menaikkan harga BBM. Â
Suyanto pedagang bensin eceran di Desa Keting, Kecamatan Sekaran, Lamongan menyatakan, kenaikan harga bensin akan semakin membuat nasib penjual bensin eceran menderita. Â
“Dengan naiknya harga BBM penjual bensin dipaksa mencari modal tambahan untuk bisa kulakkan lagi. Sedangkan untungnya sama saja, “ ujar Suyanto, Jumat (7/6/2013), bernada mengeluh.
Padahal saat ini saja untuk bensin seharga Rp4.500 dirinya harus pandai-pandai memutar uang agar bisa tetap berjualan.
Suyanto berjualan bensin di depan rumahnya yang berada di tepi jalan desa. Lokasinya tidak strategis sehingga setiap hari bensinnya hanya laku 4-5 liter. Perliter bensin Suyanto mendapat keuntungan sekitar Rp700.
“Sebanyak Rp500 dari keuntungan kulakan Rp4.500 saya jual Rp5.000 per liter.  Sedang Rp200 itu dari selisih pengisian bensin dibotol. Kalau bensin eceran botolnya tidak sampai diisi penuh. Cuma sebatas leher botol. Itu menjadi keuntungan lain bakul bensin eceran, “ kata lelaki bertubuh kecil ini.
Biasanya Suyanto kulakan bensin lima hari sekali di SPBU Babat atau di SPBU Sekaran. Sekali kulak 50 liter dibawa dengan motor.
“Jika bensin jadi naik Rp6.000-Rp6.500 maka saya harus mencari dana tambahan untuk bisa kulakkan. Nah ini yang memusingkan saya, Mas,“ keluhnya lagi.
Penjual lain asal Bluluk, Hartono, juga tidak setuju harga BBM dinaikkan. Selama ini saja keuntungan dari berjualan bensin eceran sangat tipis. Apalagi jika harga bensin naik dirinya juga harus mencari tambahan modal untuk nomboki harga baru.
Wilayah Kecamatan Bluluk sangat jauh dari SPBU. Untuk kulakan bensin harus ke Kecamatan Ngimbang yang berjarak sekitar 10 Km dari rumahnya. Jika SPBU Ngimbang kosong, dirinya terpaksa harus kulak bensin di SPBU Babat yang jarak tempuhnya dua kali lipat.
“Untungnya mepet, Mas, sebab bensinnya saya naikkan mobil tepak (pick up) yang kebetulan mau ke Ngimbang atau ke Babat,“ terang Hartono yang setiap beli bensin di SPBU langsung 100 liter. Ongkos angkut bensin yang harus dibayar Rp10.000- Rp15.000.
Para penjual bensin yang letaknya berdekatan dengan SPBU, juga merasa keberatan jika harga BBM naik.  “Sebaiknya pemerintah mencari solusi lain daripada menaikkan harga BBM.  Mudharot–nya lebih besar dari pada manfaatnya,“ papar Sumali penjual bensin di Desa Moropelang, Kecamatan Babat.
Apalagi saat itu sudah mendekati bulan puasa, lebaran, dan pendaftaran sekolah sehingga kenaikan BBM akan semakin menjerat kehidupan masyarakat.
Walau BBM hendak naik ketiga bakul bensin tersebut mengaku tidak berniat menimbun bensin. Selain karena tidak punya modal untuk biaya menimbun bensin, mereka juga tidak punya tempat untuk menyimpan stok bensin. (tok)