Waspadai H2S Sumur Blok Cepu

kacung

SuaraBanyuurip.comSamian Sasongko

Bojonegoro – Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI), pelaksana proyek pemboran pengembangan Lapangan Minyak Banyuurip menyatakan akan ekstra hati-hati dalam melakukan pemboran di Blok Cepu. Karena dimungkinkan sumur minyak Banyuurip diwilayah Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu memiliki Hydrogen Sulfide (H2S) sangat tinggi.

Informasi yang diperoleh menyebut,  untuk mengantisipasi kebocoran H2S saat pemboran berlangsung, kontraktor Mobil Cepu Limited (MCL), operator Blok Cepu itu, akan memasang alat sensor disetiap titik rawan.  Pemasangan detektor itu mengeliminer penyebaran gas beracun.

Bagian Radlitge, Kakung, mengatakan, perusahaan radlitge adalah kontraktor MCL yang disiapkan kusus untuk menangani penanggulangan H2S. Di pemboran Banyuurip ini pihaknya akan memasang sekira 14 alat sensor disetiap titik sekitar lokasi yang dianggap rawan dimana H2S itu keluar. Lain itu, juga akan disiapkan Sweeper diluar pagar sebagai pemantau dan penghubung informasi kepada warga jika bahaya H2S muncul. 

“Semua itu untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu muncul H2S cepat diketahui,” kata Kakung disela acara sosialisasi tajak sumur pengembangan lapangan Banyuurip di Desa Gayam.

Baca Juga :   Pemboran Sumur Pengembangan 2021 Terbesar Sejak 5 Tahun Terakhir

Dia menjelaskan, racun H2S ini sangat berbahaya. Karena dari jarak 200 ppm bisa menghilangkan kerusakan saluran hidung dan dari jarak 500 ppm secara singkat akan menghilangkan kesadaran bagi yang menghirupnya.

Untuk itu, lanjut Kakung, sebagai antisipasi pihaknya akan memasang alat itu dari jarak 5 ppm sehingga ketika H2S muncul alat sensor akan memunculkan tanda-tanda. Alat itu akan disambungkan ke monitor yang berjarak 10 ppm untuk kemudian disalurkan ke sirine. Sirine itu akan berbunyi keluar dari rig jika H2S muncul. Kemudian pihaknya juga menyiapkan dua master poin untuk tempat berkumpul dan petunjuk arah mata angin.

“Untuk penyelamatan, mencari tempat dataran yang tinggi. Karena, H2S itu lebih berat dari angin. Lain itu, juga harus mengarah pada berlawan mata angin,” papar Kakung.

Wiesje Rondonuwu, MCL Environment, menambahkan, MCL sudah menyiapkan berbagai antisipasi untuk penanggulangan jika terjadi sesuatu dalam pelaksanaan pemboran tersebut. Misalnya, antisipasi munculnya H2S, kebakaran, gempa bumi dan ancaman bom semua sudah disiapkan.

Baca Juga :   Sebagian Nelayan Tak Dilibatkan Sosialisai EPC 3

“Gempa bumi dan ancaman bom dimungkinkan tidak ada. Antisipasi lebih fokus di H2S. Sebab di sumur minyak Blok Cepu dimungkinkan keberadaan H2S sangat tinggi,” terang Wiesje Rondonuwu.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *