SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Naikannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi sangat berdampak pada pedagang kecil. Â Pemilik warung di wilayah Desa Kalitidu, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur klimpungan karena melonjaknya harga kebutuhan pokok untuk usahanya.
Seorang pemilik Warkop, Dasri Warga Desa Kalitidu, mengatakan, naikannya harga BBM membuatnya sangat kelabakan. Sebab, barang-barang untuk kebutuhan juga ikut naik. Bahkan harga barang-barang itu naik sebelum pemerintah mengumumkan secara resmi kenaikan harga BBM.
Dia mencontohkan, seperti harga telur per kilo gram (kg) yang sebelumnya hanya Rp15.000 sekarang naik menjadi Rp 20.000. Kemudian, ikan lele biasanya Rp 12.000/kg sekarang menjadi Rp 16.000/kg.
“Tapi saya bingung mau menaikan harga jualan, khwatir pelanggan pada lari. Namun jika tidak dinaikan saya pasti merugi karena tidak seimbang antara pengeluaran dengan pemasukan,” kata Dasri kepada www.suarabanyuurip.com, Senin (24/6/2013).
Akibat kondisi ini, penghasilan yang didapat Dasri menjadi merasot tajam. Biasanya, setiap hari dia memperoleh pendapatan kotor Rp.300 ribu, kini hanya cukup untuk kulakan lagi karena meningkatnya harga kebutuhan pokok.
Dasri berharap, pemerintah segera melakukan tindakan cepat untuk menyeimbangkan kenaikan harga kebutuhan paska naiknya harga BBM. Agar warga yang membuka usaha kecil untuk mengais rezeki tidak gulung tikar.
Senada diungkapkan, Yuni, pedagang makanan lainnya. Menurut dia, pemerintah terkesan tak memikirkan nasib masyarakat kecil dengan menaikan harga BBM ini membuat harga sejumlah kebutuhan pokok juga ikut naik.
“Ada sumber minyak Banyuurip, Blok Cepu ternyata tidak membuat rakyat sejahtera. Tapi, malah semakin tersiksa. Namun, mau berbuat apa kami ini masyarakat kecil. Berteriak sekeras apapun juga tidak akan didengar. Karena itu, tinggal pasrah dengan kenyataan saja,” sambung Yuni. (sam)