SuaraBanyuurip.com – Ririn W
Bojonegoro- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan proyek Engineering, Procurement and Costruction (EPC) 1,2 dan 5 Lapangan Banyuurip, Blok Cepu yang berpusat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dari tiga proyek EPC itu kontraktor  EPC-5 dinilai paling lelet karena sampai saat ini pekerjaanya kurang dari 30 persen.
Sesuai kontraknya, Kontraktor EPC 5 Banyuurip, PT. Rekayasa Industri (Rekind) – Hutama Karya itu diantaranya mengerjakan pembangunan waduk untuk injeksi puncak produksi minyak Banyuurip, pipanisasi dari Sungai Bengawan Solo, bangunan civil untuk menunjang kegiatan.    Â
Kepala SKK Migas Jawa, Bali, Madura dan Nusa Tenggara (Jabamanusa) , Agus Kurnia, mengungkapkan, monitoring di lapangan ini untuk melihat perkembangan dan progress report di Blok Cepu agar tidak ada keterlambatan dalam pengerjaan yang dapat menimbulkan kerugian bagi negara maupun daerah.
“Minggu lalu, SKK Migas bagian pengawasan dan pengendalian operasi melakukan evaluasi di Kantor Mobil Cepu Limited dengan kontraktor EPC,” tandasnya.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan SKK Migas, kontraktor EPC 5 yakni PT Rekayasa Industri (Rekind) – Hutama Karya (HK)dinilai paling lelet atau lambat dari yang lain. Karena alasan itulah otoritas migas tanah air itu terus memmonitor agar kontraktor bisa melaksanakan pekerjaan sesuai target.
“Jangan sampai ada kendala di lapangan yang membuat proyek menjadi terhambat,” tegas Agus.
Sementara itu, Deputy Development Manager MCL, Elviera Putri, membenarkan jika ada pertemuan antara SKK Migas dengan semua kontraktor EPC baik 1,2 dan 5 di Kantor MCL, Desa Talok Kecamatan Kalitidu, beberapa waktu lalu. Namun kegiatan tersebut adalah agenda dari SKK migas.
“Kemarin yang datang itu adalah Wasdal SKK Migas dan menanyakan perkembangan proyek pada masing-masing kontraktor EPC,” sambung wanita berambut cepak ini.
Elviera mengungkapkan, untuk kemajuan proyek di EPC 1 saat ini sudah mencapai 60 persen lebih, EPC 2 mencapai 50 persen, EPC 3 masih persiapan tambat labuh dan perakitan di Cilegon, demikian juga dengan EPC 4. Sedangkan EPC 5 yang memang agak terlambat.
“Untuk EPC 5 yang mendekati 30 persen,” ungkap dia.
Elviera menegaskan, terlambatnya pekerjaan EPC 5 ini tidak dapat dijadikan tolok ukur. Karena proyek tersebut pengerjaannya paling belakang sendiri dibanding EPC lainnya. Terlambatanya pekerjaan EPC 5 itu dikarenakan beberapa permit tanah yang belum diselesaikan.
“Ini untuk kiri dan kanan tanah di fly over,” sergah wanita Minang asal Sumatera ini tanpa menjelaskan secara detail.
Meskipun begitu, Elviera optimis target puncak produksi 2014 dapat tercapai karena tidak akan ada keterlambatan atau kemoloran jadwal pekerjaan di mega proyek Banyuurip.(rien)