Sumur Gegunung Ditambang Tradisional

SuaraBanyuurip.comEdy Purnomo

Tuban – Sumur minyak tua yang berada di Dusun Gegunung, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur hingga saat ini masih dikelola secara tradisional oleh sejumlah warga setempat. Penambangan secara tradisional itu dilakukan warga sudah bertahun-tahun.

Saban hari di Sumur Gegugung terlihat aktifitas penambangan. Meski secara geografis sumur tua tersebut berada sangat jauh dari pemukiman warga. Yakni terletak diantara lahan gersang ditengah pegunungan.

Untuk melewati lahan gersang tersebut, harus menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer, dari jalan penghubung Kecamatan Montong dan Singgahan Tuban, dengan kondisi jalan terjal dan berbatu.

Namun kondisi medan seperti itu tak membuat warga segan. Sumur Gegunung bagi mereka sudah menjadi gantungan hidup mereka. Warga setiap hari datang ke sumur itu untuk mengeksploitasi sumber daya alam dengan cara tradisional. Yakni menghubungkan alat pengambil minyak yang terbuat dari besi panjang dan menariknya dengan mesin disel.

Kemudian dengan telaten minyak yang ditambang diendapkan dalam sebuah penampungan sederhana dan memisahkan kedalam sejumlah drum. Dalam sehari warga mengaku dapat menambang minyak 2,5 hingga 3 meter drum. Warga 

Baca Juga :   Tripatra : Kita Akan Evaluasi

“Sehari dapat dua setengah hingga tiga drum mas,”  kata Sarwi, warga yang mengaku berasal dari Kecamatan Bangilan, Tuban.

Minyak hasil penambangan itu dijual warga kepada siapa saja yang mau dan membutuhkan. Harganya pun sangat murah dibanding minyak industri yang ditambang dengan peralatan canggih. Per drumnya minyak Gegunung dijual dengan harga 400 ribu. Itupun pembeli mengambil sendiri ketempat tersebut.

“400 ribu satu drum, tapi diambil sendiri disini,” tutur Sarwi.

Penambangan tradisional di Sumur Gegunung itu sepertinya akan terhenti dengan beroperasinya PT Pertamina yang melakukan Kerja Sama Operasional (KSO) dengan PT Tawun dan Gegunung dalam mengelola sumur tersebut. Hanya saja, sampai saat ini warga disekitar tempat itu belum mengetahui kabar tersebut.

Ketua Kelompok Penambang, Ratmin (48), warga Desa Kejuron, Kecamatan Bangilan, mengaku, tidak tahu menahu akan rencana itu. Mereka hanya katakan, bahwa dia bersama dengan sejumlah temannya hanya memanfaatkan sumber daya yang mengalir dari bumi ini saja.

“Kita nggak tahu mas rencana itu,” jawab Ratiman singkat. (edp)

Baca Juga :   DPRD Bojonegoro Nilai Jargas Mati Rugikan Pelanggan

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *