TAK bisa dipungkiri, penjajahan Belanda selama ratusan tahun di Indonesia, menyisakan  sejumlah dampak bagi bangsa ini. Termasuk kandungan pada sektor Minyak dan Gas Bumi (Migas) di Indonesia yang konon sudah dipetakan sejak jaman kolonial Belanda. Â
Tercatat sejak itu diketahui Nusantara menyimpan ratusan, bahkan mungkin ribuan, sumur tua yang sudah dimaktubkan dalam peta Migas kuno. Apalagi kala itu tanah air masih berstatus sebagai negeri jajahan.
Satu diantaranya adalah sumur minyak tua di Dusun Gegunung, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Meski akses jalan untuk ke tempat ini harus melewati medan berat karena secara geografis terletak diantara perbukitan yang banyak dijumpai di kawasan Kecamatan Montong, Singgahan, dan Kecamatan Kerek, namun hingga saat ini masih ada sejumlah penambang yang mendulang emas hitam di tempat itu.
“Meski saya orang sini tapi tidak pernah ke tempat sumur tua itu, Mas. Lokasinya jauh dan jalannya jelek,†kata Masu’in (33), salah satu warga yang menunjukkan arah jalan menuju Dusun Gegunung kepada saya.
Walau awalnya terkesan meremehkan kesiapan saya menuju lokasi sumur tua di tengah hutan itu, namun pria ramah ini akhirnya mau memberikan arah. Dia mengatakan, dari jalan penghubung Kecamatan Montong, dan Kecamatan Singgahan harus mengambil jurusan pintas menuju Desa Sidonganti, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban.
Dari jalan yang sejak awal sudah tidak beraspal ini, kemudian dilanjutkan berbelok ke kanan. Menuju jalan akses satu-satunya menuju arah sumur yang oleh masyarakat setempat biasa disebut Plantongan. Setelah itu dia tidak bisa memberi petunjuk apa-apa, karena selama ini hanya sekedar mendengar saja adanya penambangan tradisional di tempat tersebut.
“Saya tidak tahu lagi, yang penting itu arahnya, Mas. Coba nanti tanya lagi kalau misal ketemu orang di jalan,†katanya sambil mengingatkan saya kalau di tempat tersebut juga jarang ada orang lewat.
Mengikuti arah yang ditunjuk Masu’in ternyata tak mudah. Apalagi kondisi jalan setapak jauh dari kata layak. Awalnya memang bisa saya dilalui dengan lancar, namun pada akhirnya ucapan petani tepian hutan jati itu terbukti. Jalan yang harus dilalui adalah medan dengan batu besar, dan terjal. Bahkan harus menaiki tak kurang dari tiga bukit, kemudian menuruninya lagi dengan kondisi jalan licin.
Di tengah hutan saya bertemu dua pesanggem (petani penggarap lahan hutan milik Perhutani-Red). Dari mereka saya mendapat informasi lokasi sumur tua Gegunung. Perjalanan pun saya lanjutkan dengan menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui para pengambil, warga setempat biasa menyebut pengusung, minyak mentah.
Pengusung biasa menggunakan motor untuk mengangkut minyak mentah dengan jerigen yang ditumpuk berkapasitas lebih dari 200 liter. Hal ini sama artinya bahwa kekhawatiran saya akan tersesat di tengah hutan akibat karena salah jalan tidak terbukti.
“Baru saja ada yang lewat dua orang, kadang satu hari bisa hingga beberapa kali. Selain itu juga ada mobil bagus yang lewat sini,†tutur Moyo (60), salah satu pesanggem asal Desa Sidonganti saat kutemui di pertigaan jalan yang dilalui para pengusung tersebut.
Petani berkaos hijau yang telah lapuk warnanya ini mengatakan, dari beberapa orang yang akrab dengan aktifitas di jalanan itu tak satupun ada warga setempat, termasuk warga Sidonganti. Warga se desanya tidak ada yang tertarik ikut menambang. Mereka menganggap tidak ada manfaat. Mereka lebih senang bertanam, seperti yang dia lakukan dengan menjadi petani singkong di lahan milik Perhutani KPH Jatirogo tersebut.
“Buat apa, Mas, lebih baik bertani saja. Kalau dulu memang ada yang mengambil lentung (minyak mentah-Red), tapi dibuat untuk membakar sampah saja,†tambah pesanggem gaek itu.
Sejenak ngobrol dengan Mbah Moyo, demikian dia biasa disapa, saya harus meninggalkannya. Meneruskan perjalanan di tengah matahari tepat di atas ubun-ubun menuju Plantongan.
Terhitung setelah dua jam berjalan di atas jalan berbatu sepanjang 18 kilo meter (Km), akhirnya terlihat camp, semacam tempat melakukan penambangan tradisional tersebut. Lokasinya berada di bawah bukit. Â Dari atas bukit yang saya pijak terlihat tenda warna biru. Juga susunan kayu yang dibentuk seperti menara, serta sayup-sayup suara mesin desel.
“Dari mana, Mas?†kata seorang penambang tradisional begitu saya mendekati lokasi penambangan minyak mentah tersebut.
Setelah menjelaskan maksud dan tujuan perjalanan, akhirnya mereka mengijinkan saya mengambil beberapa foto aktifitas penambangan. Tak hanya itu, saya pun mendapat penjelasan bagaimana proses penambangan di tempat yang dulu ditemukan para ahli minyak dari Belanda tersebut. Â
“Dengan alat ini kami menarik minyak yang ada di bawah dengan mesin desel, kemudian mengeluarkan isinya, dan menampung minyak bercampur air di tempat ini,†kata Ratmin (48), pria yang disebut penambang lain sebagai ketua kelompok sembari telunjuknya menujuk bak penampungan sederhana.
Pria paruh baya yang terlihat berpengalaman dengan penambangan tradisional ini cukup ramah. Dia berasal dari Desa Kejuron, Kecamatan Bangilan, Tuban.
Kang Ratmin, begitu anggota kelompoknya biasa menyapa, menjelaskan secara rinci bagaimana proses penambangan dilakukan. Setelah air bercampur minyak mentah sudah mereka keluarkan, kemudian diendapkan beberapa kali supaya air, dan minyak mentah bisa dipisahkan.
Sekalipun telah beberapa waktu diendapkan, tidak serta merta minyak terpisah dengan beberapa kotoran lain yang menyertai air. Endapan tersebut harus dicampur dengan serbuk tertentu, yang dia sendiri tak tahu nama kimianya, baru kemudian menjadi minyak mentah. Hasil pemisahan melalui penyulingan inilah yang mereka jual kepada siapapun yang mau membeli.
“Setelah itu baru kami jual kepada siapapun yang mau,†kata Kang Ratmin yang kala itu di dampingi, Sarwi, seorang penambang.
Dalam penambangan selama sehari, ungkap Sarwi, mereka bisa menghasilkan sekitar 2,5 hingga 3 drum minyak mentah. Â Mereka kemudian didatangi oleh beberapa orang yang berniat membeli, dengan harga Rp400.000 untuk satu drumnya.
“Dijual kepada siapa saja yang mau dan butuh, Mas,†ungkap Sarwi, sambil memisahkan minyak mentah dari satu drum ke drum yang lain. Tangannya tampak terampil, dan berpengalaman dalam memisah minyak yang masih bercampur air.
Mereka mengaku, mengelola tambang tradisional di tempat tersebut hanya untuk sekedar mencari makan saja. Tanpa berharap mendapat keuntungan yang berlebih. “Ini sekadar menyambung hidup.â€
Akan Diambilalih Pertamina EP
Di tengah ketenangan penambang tradisional melakukan aktifitas jauh dari keramaian, tiba-tiba berembus kabar jika sumur tua itu akan diambil alih oleh PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PEP). Perusahaan milik negara ini akan mengelola dua lapangan Migas. Yakni, lapangan Tawun di Bangilan, dan Gegunung.
“Rencananya akan ada dua blok lagi di Tuban, Mas,†kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Pemkab Tuban, Heri Prasetyo S, kepada SuaraBanyuurip.com saat diklarifikasi secara terpisah di kantornya pada penghujung bulan Juni 2013 lalu.
Dia akui, pihaknya telah mendapat kabar resmi dari Jakarta jika dua sumur Migas yang lokasinya tak begitu berjauhan tersebut, akan dilakukan oleh PEP dengan melakukan Kerja Sama Operasional (KSO) bersama PT Tawun Gegunung dari Barito Pasific Group.
“Pengelolaannya dengan sistem KSO antara PEP dengan PT Tawun Gegunung,†jelas pria yang juga menjadi dosen di salah satu kampus perguruan tinggi swasta di Tuban ini.
Pengelolaan kandungan Migas di dua kawasan tersebut, tak lebih dalam rangka percepatan produksi Migas nasional. Sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) nomor: Â 2 Tahun 2012 mengenai percepatan produksi Migas.
“Kalau dua tempat itu bisa dikelola, otomatis Tuban juga akan mendapat tambahan pendapatan. Dengan adanya Dana Bagi Hasil (DBH) dari produksi Migas,†jelasnya.
Pemkab Tuban, tambah Heri, sangat berharap dua sumur tua Migas tersebut segera bisa dieksploitasi agar raihan DBH dari Migas bisa terkatrol lagi, setelah enam tahun terakhir mengalami penurunan.
Data dari Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tuban yang saya terima menyebut, DBH yang diperoleh dari hasil produksi Migas di Tuban pada tahun 2007 sebanyak 1.156.196,79 barel, pada tahun 2008 sebanyak 1.389.434,16 barel. Selanjutnya sebanyak 908.331,26 barel pada tahun 2010, dan sebanyak 716.056,41 barel di tahun 2011, dan terakhir hanya sebesar 603.246,07 barel pada tahun 2012.
“Jumlah DBH yang kita terima dari sektor Migas terus mengalami penurunan,†ujar Heri sambil membeber data yang dipegang dinasnya kepada saya.
DBH tersebut diperoleh Tuban dari sumur Mudi, di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, yang saat ini dikelola Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB PPEJ), dan sumur Migas yang ada di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Tuban, yang saat ini dikelola PEP.
Untuk itu dia berharap, adanya sumber atau cadangan Migas baru yang ditemukan di wilayah Bumi Ranggalawe, Tuban. Apalagi sesuai ketentuan konstitusi yang ada, penghitungan DBH berdasarkan pada letak mulut sumur.
Pihak PEP pun mengakui, saat ini masih dalam tahap persiapan untuk pengeboran sumur Tawun, dan sumur Gegunung. Perusahaan ini masih melengkapi sejumlah perijinan, dan penyiapan lahan. Harapannya, kedua sumur ini mampu mendongkrak produksi Migas dari sejumlah sumur yang sudah dikelola Pertamina.
“Kita masih persiapkan pengeboran di tempat tersebut (Tawun dan Gegunung-Red),†kata Direktur Eksplorasi dan Penemuan Cadangan Baru PEP, Doddy Priambodo, kepada saya usai melakukan penanaman pohon laut di Mangroove Center Tuban (MCT) Desa Jenu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, awal bulan Juli 2013 lalu.
Sama dengan informasi yang disampaikan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tuban. Pengelolaan di dua tempat itu dengan cara  KSO dengan PT Tawun Gegunung. Termasuk juga dalam hal upaya penemuan cadangan baru di tempat tersebut.
“Memang ada kerja sama yang kita lakukan untuk pengolahan beberapa sumur, dan cadangan baru yang kita temukan,†terang Doddy.
Sedangkan Legal and Relation Manager Pertamina EP Asset 4, Arya Dwi Paramita, dalam berapa kali kesempatan mengemukakan alasan tambahan. Yakni, pengelolaan sumur Migas dengan cara KSO dilakukan untuk menunjang optimalisasi produksi Migas.
Pada umumnya, pengelolaan lapangan sendiri atau dikelola oleh mitra dalam format KSO itu ada pertimbangan yang digunakan. Diantaranya, pertimbangan prioritas, teknis, keekonomian, dan juga beberapa alasan lain.
“Sehingga ada lapangan yang difokuskan untuk dikelola sendiri, ada juga beberapa yang dikelola kerja sama operasi mitra,†kata Arya Dwi Paramita, melalui Blackberry Messenger yang dikirim kepada saya pada, Minggu (30/6/2013).
Riuh kabar bakal dieksplorasinya sumur tua Gegunung, dan Tawun sampai juga ke Camat Singgahan, Tuban, Jam’ul Fawaid. Dia membenarkan adanya rencana pengelolaan sumur Migas tradisional di tempat tersebut. Saat ini pihaknya masih menunggu KSO dari PEP untuk melengkapi sejumlah kekurangan dalam persyaratan ijin.
“Sudah beberapa kali rapat, Mas, tapi hingga sekarang belum final,†kata Jam’ul, ketika saya dikonfirmasi di Kantor Camat Singgahan.
Ada catatan pesan dari Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Singgahan yang mesti dilakukan oleh siapapun yang akan mengelola sumur Migas tersebut. Adanya pengelolaan sumur tua harus ramah dengan lingkungan. Perusahaan juga dituntut supaya bisa menjamin keamanan lingkungan warga sekitar.
“Yang terpenting adalah faktor keamanan, Mas,†ujar Jam’ul membeberkan salah satu persyaratan yang diberikan kepada perusahaan.
Selain problema keamanan, dia meminta, agar ada program pemberdayaan dari perusahaan untuk masyarakat sekitar. Entah itu dengan ketrampilan kerja, atau bentuk lain yang membawa manfaat kepada masyarakat sekitar.
Camat Jam’ul juga membenarkan, hingga saat ini sumur peninggalan Belanda tersebut masih dikelola penambang tradisional. “Saya pernah kesana sekali, disana memang masih ditambang tradisional oleh sejumlah warga biasa.â€
Matahari mulai bergeser ke arah barat. Kang Ratmin masih bersemangat menjelaskan proses produksi penambangan di sumur tua Gegunung. Beberapa kali dia meneriakan aba-aba kepada anggota kelompoknya. Untuk mengoperasikan peralatan berupa alat desel, dan besi yang berbentuk lonjong secara bersamaan.
Pria yang matang di lapangan Migas di tengah hutan ini kepada saya mengaku, tidak tahu menahu tentang rencana pemerintah yang akan menyerahkan pengelolaan Gegunung kepada PEP. Dia hanya tahu, apa yang dilakukan hanya sekedar memanfaatkan sumber daya alam, dan kemudian memuntahkan minyak mentah dari perut Gegunung ke permukaan tanah.
“Saya hanya memanfaatkan adanya minyak yang ke luar dari tanah, daripada terbuang percuma,†kata kakek, yang saat itu juga mengajak cucunya untuk menambang.
Suara mesin desel masih meraung membelah hutan jati yang telah meranggas. Saat saya berpamitan, beberapa penambang menjabat tangan saya dengan hangat. Bahkan Kang Ratmin, berjanji kepada saya akan menunjukkan peta keberadaan sumur Migas kuno miliknya.
“Nanti main kerumah saja saya kasih tahu, tapi jangan difoto copy,†tandasnya sambil memberi nomor ponsel kepada saya.
Di tengah rasa letih yang mulai membumi di raga, saya meninggalkan sumur tua Gegunung. Plantongan pun berada di belakang saya. Sesekali terdengar raung desel di hantar angin sebagai penanda keberadaan warga tepian hutan mengeluarkan lentung dari perut Gegunung. (edy purnomo)