Disana Masih Ada Warung Mbak Parti

mbak parti-2

MUSIM hujan tampaknya sudah mulai menjauh dari ladang Migas Blok Cepu. Awan tipis merangkak perlahan digendong angin. Langit cerah mempertegas timbul tenggelamnya matahari diantara gugus awan di atas area proyek Engineering Procurement and Construction (EPC)-1, sumur minyak Banyuurip.

Perempuan dengan tubuh tak gemuk berbalut baju warna ping setia menunggu warung kopi, dan es, dan makanan ringan lainnya. Dia selalu ramah. Apalagi kepada pekerja proyek Kampung Tunnel di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Keberadaannya menjadi bagian tersendiri dari proyek kampung Migas tersebut. Warungnya pula yang selama ini menjadi tempat berteduh para pekerja, maupun warga yang kehausan di saat mentari menjilat setiap sudut proyek.

Mbak Parti, demikian perempuan bernama asli Parti Ningsih itu akrab disapa. Usaha yang dikelola wanita asal asal RT/RW 01/01, Dukuh Tanggungan, Desa Brabowan, Kecamatan Gayam ini memang sederhana. Namun, kemandirian dalam berusaha disaat gegap gempita proyek Migas di kampungnya bisa menjadi contoh kreatifitas warga.

Tak menghiraukan hawa panas yang saban siang merajam kulit, ibu satu putra itu tampak cekatan melayani setiap pembeli. Jemarinya yang bersih, dan halus sesekali menyuguhkan secangkir kopi atau segelas minuman kepada pembeli.

Baca Juga :   Gunakan Alat Sederhana, Kewalahan Terima Pesanan

“Saya berjualan hanya di siang hari saja, Mas,” kata Parti Ningsih.

Sedangkan sore harinya, dia manfaatkan untuk mengurus anak. Sekaligus mempersiapkan kebutuhan dagangan esuk harinya.

“Membuka warung disini mulai bulan November 2012 silam, Mas,” ungkap istri Lasmo ini.

Jika dihitung secara acak, tambah dia, usaha ini sudah ditekuninya sekitar satu tahun. Sebelumnya bekerja sebagai buruh tani, dan pernah juga bekerja di pertokohan di Kota Surabaya.

Sepertinya pasangan suami istri ini tekun dalam berbisnis. Dalam sehari omset dagangannya berkisar Rp600.000 sampai Rp700.000. Itu belum dipotong modal untuk kulakan.

Mbak Parti mengaku, sudah terbiasa bekerja kasar di bawah terik matahari. Jadi sudah tidak kaget lagi dengan kondisi panas seperti siang ini. Siang demikian terik ketika SuaraBanyuurip.com datang ke warung kopi miliknya.

“Alhamdulillah hasilnya lumayan buka warung disini, cukup untuk kebutuhan keluarga, dan biaya anak sekolah di SMA,” papar Parti Ningsih seraya tersenyum.

Dalam memasang tarif dagangannya pun relatif. Disesuaikan dengan minuman dan makanan yang dipesan pelanggannya.

Baca Juga :   Bojonegoro Punya Potensi Agrobisnis

“Biasa kalau secangkir kopi cukup Rp1.500, dan es jos Rp2.000 per gelasnya,” tambahnya. Dia pun tak pernah menghitung berapa cangkir kopi, dan berapa gelas es yang dijual dalam sehari. Baginya yang dijadikan patokan adalah setiap hari ada uang terkumpul kisaran Rp600.000 hingga Rp700.000.  

Sedangkan Lasmo menyatakan, membuka usaha warung merupakan salah satu cara untuk merubah nasib, dan menciptakan lapangan kerja sendiri. Mereka menyadari keterbatasan pengalaman dan pendidikan formal yang dimilikinya, tak bisa dijadikan sarana untuk bekerja di proyek Migas.  

“Saya sudah bersyukur meskipun dengan sebagai penjual kopi. Karena, mau kerja pertanian juga tidak punya sawah. Yang terpenting halal tidak merugikan orang lain,” tukas Lasmo yang menikah dengan Parti Ningsih pada tahun 1995 tersebut. (samian sasongko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *