SuaraBanyuurip.com -Â Totok Martono
Lamongan- Serangan hama wereng di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur yang sempat memuncak pada akhir Juli lalu, sekarang mulai menurun. Dari total seluas 1.505,4 hektar lahan pertanian yang diserang wereng, saat ini berkurang tinggal tersisa 20 persennya.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Lamongan, Aris Setiadi dikonfirmasi melalui Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Purwo Widodo, mengatakan, penurunan serangan hama itu salah satunya dikarenakan keberhasilan program Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) skala luas.
Dijelaskan, di lahan seluas 60 hektar pengendalian pencegahan hamanya sudah menggunakan agen hayati yang ramah lingkungan. Agen hayati yang digunakan sendiri sudah disesuaikan dengan kondisi tanah dan hama di daerah tersebut.
“Program ini mampu mengendalikan serangan hama,” tegas Purwo Widodo di sela-sela panen raya padi di Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kamis (15/8/2013).
Hadir dalam panen itu ahli pertanian dari Universitas Brawijaya Gatot Mudijono bersama Direktur Perlindungan Tanaman pada Kementerian Pertanian Yadi Rusyadi dan Kepala UPT Proteksi Tanaman Jatim Ketut Marsudi.
Bupati Fadeli di kesempatan itu menyampaikan keinginannya untuk mencanangkan program besar di bidang pertanian. Yakni pertanian yang ramah lingkungan melalui SLPHT skal luas sehingga member contoh nyata bagi petani. Karena SLPHT pada umumnya hanya mencakup luasan lahan 500 meter persegi. Sedangkan tahun ini di Laren sudah dimulai dengan 60 hektar dan di Kecamatan Deket 100 hektar.
“Saya mengundang pakar dan ahli dalam panen ini untuk semakin membulatkan tekad saya untuk membantu petani Lamongan semakin sejahtera secara berkelanjutan dengan pertanian yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Pada bagian lain, ahli pertanian dari Universitas Brawijaya Gatot Mudijono  penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara berlebihan telah memulai lingkaran setan timbulnya ledakan hama tanaman.
“Ekosistem yang tidak seimbang menyebabkan timbulnya hama dan penggunaan pupuk urea berlebihan telah merusak tanah sehingga mengancam produksi pertanian,” sambung Gatot.
Untuk diketahui, serangan wereng di Lamongan sampai akhir Juli lalu tercatat seluas 1.505,4 hektar. Dengan rincian 815,2 ha serangan ringan, 395,8 hektar serangan sedang, 216,4 kondisi berat dan 78 hektar statusnya poso.(tok)