SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Pengusaha tahu dan tempe di Kabupaten Tuban, Jawa Timur mengaku omsetnya mengalami penurunan hingga 30 persen. Penurunan drastis ini akibat melambungnya harga kedelai selama beberapa pekan terakhir.
Saat ini, kedelai yang merupakan bahan dasar pembuatan tahu dan tempe mencapai harga Rp9 ribu per kilogramnya. Padahal sebelumnya hanya dikisaran Rp 7 ribu per kilogramnya. Kondisi ini tentu membuat pengusaha makanan rakyat ini terancam gulung tikar. Karena tidak imbangnya biaya produksi dengan hasil penjualan.
“Saat ini istilahnya ya hanya balik modal saja, Mas. Kalau untung sangat sulit,†kata Wardam, (64), salah satu pengusaha tahu dan tempe asal Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban saat didatangi ditempat usahanya, Jum’at (30/8/2013).
Wardam mengatakan, alasan dirinya bertahan tetap menjalankan usaha itu untuk menjaga agar pelanggannya tidak kabur. Namun apabila harga kedelai terus merangkak naik dirinya tidak menjamin usahanya akan dapat terus berjalan.
“Selain itu juga kasihan dengan karyawan yang menggantungkan hidupnya pada usaha ini,†jelas dia sambil berharap harga kedelai kembali normal.
Sekarang ini dia mengaku hanya mampu melakukan produksi dengan bahan baku kedelai sebanyak 1,5 kwintal dengan modal yang ada. Padahal biasanya dia mampu melakukan produksi dengan bahan dasar hingga 2,3 kwintal.
“Jadi harga tahu lebih mahal. Kalau dulu 17 ribu rupiah satu cetakan sekarang menjadi 23 ribu rupiah per cetakan,†ujar Wardam, sambil menunjuk cetakan tahu yang berukuran 30×30 centi meter.
Akibat mahalnya kedelai ini menjadikan penjualan produksi di masyarakat menurun. Karena apabila dari produsen harga sudah naik, secara otomatis pedagang pun akan menaikkan harga dagangannya.(edp)