SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro- Kenaikan harga kedelai impor tidak hanya membuat pusing produsen tahu dan tempe di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Namun petani kedelai juga dipusingkan dengan serangan hama yang menyerang sebagian besar tanaman mereka.
Salah satu daerah lahan pertanian kedelai yang diserang hama terjadi di Desa Mojoranu, Kecamatan Dander. Di wilayah ini puluhan hektar tanaman kedelai yang baru berusia 30 hari sebagian besar rusak akibat terserang penyakit “manthek”.
Marjuki (40), salah satu petani setempat mengaku, akibat serangan hama ini membuat dirinya terancam rugi. Padahal dirinya menanam kedelai dengan maksud untuk mencari untung saat harga kedelai naik tajam.
“Sebagian besar tanaman kedelai saya kena penyakit mathek,” ujarnya sambil mencabuti tanaman yang rusak.
Dia menjelaskan, penyakit ini menyerang tanaman akibat kekurangan abu yang biasa digunakan sebagai pupuk. Sehingga tanaman kedelainya ini justru tidak bisa tumbuh subur bahkan banyak daun yang diserang hama ulat sampai daun tanaman kedelai menjadi rusak.
“Sebenarnya bisa diobati, tetapi akan menambah biaya produksi,” tutur Marjuki, lirih.
Dari pantauan di lapangan, penyebaran hama ulat ini sangat cepat dan sulit diberantas. Para petani hanya bisa pasrah dan berharap mendapat bantuan dari pemerintah untuk mengobati penyakit dan hama yang menyerang tanaman mereka.(rien)