SuaraBanyuurip.com -Â
Gara-gara tak memiliki biaya untuk mengoperasikan kaki anaknya yang patah tulang, seorang buruh bangunan membawanya ke pengobatan alternatif. Namun cara itu justru membuat lukanya makin parah dan harus diamputasi.
Seorang siswi berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat penyangga keluar dari salah satu ruangan SMPN 2 Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (3/9/2013). Dengan hati-hati gadis berjilbab itu turun dari lantai kelas.
Dia adalah Ira Aristya Sari (12), pelajar kelas VIIÂ SMPN 2 Bojonegoro. Kaki kanan pelajar itu akan diamputasi karena luka akibat patah tulang semakin parah.
Selama ini Ira – sapaan akrabnya- terlihat tegar, namun kabar akan diamputasi kaki kananya membuat dia tak mampu menyembunyikan kesedihan.
Betapa tidak, diusianya yang masih belia, Ira harus hidup dengan satu kaki. Kalaupun ingin memiliki dua kaki ia harus menggunakan kaki pasangan (palsu). Namun ia tak dapat berbuat apa-apa dengan suratan takdir yang sudah digariskan.
“Saya hanya bisa pasrah, Mbak. Kalau memang ini yang terbaik, saya ihklas menerimanya,” kata Ira lirih kepada www.SuaraBanyuurip.com ketika ditemui di sekolahnya.
Derita Ira dimulai dari setahun lalu. Ketika kecelakaan menimpanya pada Agustus 2012. Akibat kejadian naas itu kaki kanannya patah. Namun kedua orang tuanya, Suyono (50) dan Eni (36), kala itu tak memiliki biaya untuk mengoperasikan di rumah sakit.
Suyono hanyalah buruh bangunan dengan kehidupan pas-pasan. Sehingga tak memungkinkan bagi warga Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, itu untuk membawa anaknya ke rumah sakit dioperasi dengan biaya belasan bahkan bisa sampai puluhan juta.
Terpaksa Ira dibawa ke pengobatan alternatif khusus patah tulang atau biasa disebut sangkal putung. Namun setelah dua bulan, kaki patah Ira tak kunjung sembuh. Justru semakin parah muncul benjolan besar yang berisi air. Selama setahun itulah gadis berparas ayu itu harus menggunakan tongkat penyangga.
“Kata dokter kakinya yang infeksi dan harus diamputasi,†sambung Suyono ketika ditemui di depan SMPN 2 Bojonegoro untuk menjemput anaknya.
Suyono menceritakan, sejak muncul benjolan di kaki kanan anak ke duanya itu dia baru membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah Sosodoro Djatikoeosomoe Bojonegoro. Namun juga tidak ada hasilnya sehingga di bawa ke rumah sakit yang berada di Solo. Semua biaya pengobatan itu didapat Suyono dari sumbangan sanak saudaranya.
“Namun masih juga belum bisa sembuh. Justru melempuh di bagian telapak dan jari kaki,†ujar Suyono, mengungkapkan.
Kondisi itu membuat Suyono semakin bingung. Sebab dia tak memiliki biaya lagi untuk meneruskan pengobatan. Namun lagi-lagi karena dukungan sanak saudaranya, Ira disarankan untuk dibawa ke salah satu rumah sakit di Surabaya. Oleh pihak rumah sakit dijanjikan kaki Ira bisa sembuh, namun dengan biaya pengobatan yang cukup tinggi.
“Pihak rumah sakit juga menyarankan agar kaki Ira diamputasi saja. Cara ini biayanya lebih murah dibanding dengan biaya pengobatan,†kenang Suyono.
Menurut dia, sebenarnya dirinya bisa mengobatkan anaknya dengan biaya ringan yakni menggunakan jaminan kesehatan masyarakat miskin (Jamkemas). Namun Jamkesmas yang dia miliki sudah mati.
“Waktu mau memperpanjang Jamkesmas di Dinas Kesehatan Bojonegoro katanya sudah tidak bisa,” kata Suyono, pasrah.
Musibah yang menimpa Ira dan keluarganya ini mengundang empati dari guru-guru, wali murid dan siswa-siswi SMPN2 Bojonegoro untuk ikut membantu biaya pengobatan. Apalagi selama ini anak ke dua dari tiga bersauda itu merupakan salah satu siswi berprestasi.
“Alhamdulillah, sudah banyak yang membantu, dari bapak ibu guru dan teman-teman sekolah,â€sambung Ira kembali.
Sementara itu pihak sekolah juga mengaku terus memberikan support kepada Ira agar nanti jika kakinya jadi diamputasi agar tidak berkecil hati.
“Kami selalu memotivasinya karena dia anak yang cukup cerdas di kelasnya,†timpal Kepala SMPN 2 Bojonegoro, Ali Fatikin.(ririn wedia)