Pasca Banjir Wanita Truni Jadi PRT

truni

SuaraBanyuurip.com - Totok Martono

Lamongan- Banjir akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo yang melanda Desa Truni, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur  hingga dua kali pada Februari dan April 2013 lalu benar-benar menjadikan ekonomi warga setempat kian terpuruk. Demi menyambung hidup, puluhan wanita Truni terpaksa bekerja sebagai buruh dan Pembantu Rumah Tangga (PRT).

Mereka terpaksa harus ikut bekerja membanting tulang karena tidak bisa lagi mengandalkan lahan pertanian yang menjadi gantungan hidupnya selama ini. Karena warga tidak ada modal lagi untuk bercocok tanam. Sedang kepedulian pemerintah kabupaten (Pemkab) Lamongan pasca bencana banjir tak pernah bisa diharapkan lagi.

Kades Truni, Martono kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis (5/9/2013), membenarkan jika kondisi perekonomian warganya terpuruk paska banjir yang ‘menenggelam’kan Desa Truni. Puluhan wanita Truni terpaksa ikut bekerja untuk membantu ekonomi keluarga yang kolaps. Sedang suami mereka bekerja serabutan dari kuli bangunan, mbecak, kuli panggul dan pekerjaan kasar lainnya.

“Puluhan wanita desa truni terpaksa bekerja jadi buruh dan PRT untuk menutupi kebutuhan hidup,” terang kades dua periode ini.

Baca Juga :   Ranmor di Kawasan Blok Cepu Ditangkap

Sebenarnya, lahan pertanian Truni sangat subur karena mendapatkan pengairan yang melimpah dari Sungai Bengawan Solo. Namun setelah sawah ladang mereka tenggelam warga tak memiliki modal untuk mengarapnya.

Diterangkan, kaum wanita didesanya banyak bekerja dibabat sebagai buruh di pabrik wingko dan roti. Sebagian lainnya menjadi PRT. Untuk menuju tempat bekerja, mereka harus berjalan kaki pulang pergi. Jarak desa dengan tempat bekerja sekitar 4 kilometer. Sementara upah mereka dalam bekerja sehari penuh hanya berkisar Rp15.000-Rp20.000.

“Mereka berangkat jam 6 pagi dan sampai rumah jam 6 sore mas,” sergah Martono, menerangkan.

Desa Truni sendiri terdiri dari 450 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk 2053 jiwa. Hampir sebagian warga masih terkatagori hidup pra sejahtera. Hal itu dibuktikan dari penerima beras miskin (Raskin) 220 KK.

“Lebih dari separuh yang hidup pra sejahtera,” tegas Martono.

Kondisi ini telah menjadikan warga maupun pemerintah desa (Pemdes) Truni apatis. Meski saat ini Pemkab Lamongan memiiki program Gerakan Membangun Ekonomi Masyarakat Lamongan Berbasis Pedesaan (GEMERLAP) yang selalu digembar gemborkan Bupati fadeli, namun hal itu sulit terealisasi.

Baca Juga :   Sharing Jurnalis dan Kabag Humas Tuban

“Sulit mas, ndak mungkin bisa menjangkau itu, “ ujar Martono, pasrah. (Tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *