SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro- Dinas Transmigrasi, Sosial dan Kependudukan (Distransosduk) Provinsi Jawa Timur meminta kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Migas yang melakukan kegiatan di Kabupaten Bojonegoro untuk memaksimalkan program corporate social responsibility (CSR) pada pelatihan dan sertifikasi.
Di Kabupaten Bojonegoro sendiri terdapat empat KKKS Migas. Yakni Mobil Cepu Limited (MCL), operator Migas Blok Cepu, Joint Operating Body Pertamina PetroChina Eas Java (JOBP-PEJ), operator Blok Tuban, Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 4 Field Cepu, operator Tiung Biru (TBR) dan Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC), operator Gas Cepu.Â
“Ini akan menjadikan masyarakat Bojonegoro memiliki kompetensi dan daya saing dalam bursa kerja khususnya di industry migas,†kata Kepala Distransosduk Jatim, Hary Soegiri.
Menurut dia, dengan keberadaan migas di Bojonegoro baik itu di Blok Cepu, Blok Tuban, Tiung Biru maupun Gas Cepu akan membuka banyak peluang kerja bagi masyarakat.
“Jika mereka memiliki keahlihan tentu peluang untuk terlibat semakin besar,†tegas Hary.
Pihaknya berharap, KKKS Migas yang beroperasi di Jawa Timur dapat bekerja sama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada di masing-masing Kabupaten. Sehingga secara bersama-sama memadukan program pelatihan kerja sesuai dengan kualifikasi.
Selain itu, lanjut dia, harus ada transformasi ilmu dari masing-masing KKKS migas. Sehingga tenaga kerja yang dilibatkan semuanya tidak diambilkan dari luar negeri atau Jakarta maupun kota besar lainnya. Melainkan masyarakat yang wilayahnya memiliki tambang migas.
“Jadi operator harus bisa memberikan program CSRnya untuk peningkatan SDM,” tandas Hary.
Distransosduk berjanji, akan melakukan pengawasan dan pengawalan terhadap program-program CSR yang di gulirkan KKKS Migas baik di Bojonegoro maupun kabupaten lain di Jatim agar tidak terjadi kesenjangan sosial yang memunculkan bermacam permasalahan. Â Karena pada dasarnya masyarakat tidak ingin ingin menjadi penonton di daerahnya sendiri dengan kekayaan alam yang dimiliki.
“Kita sudah mulai mengawal para operator ini. Target kami menjadikan BLK di Bojonegoro menjadi BLK bertaraf internasional,” pungkasnya.(rien)