SuaraBanyuurip.com – Ririen Wedia
Bojonegoro – Pemkab Bojonegoro menyiapkan anggaran sebanyak Rp62 miliar untuk menyiapkan tenaga terampil. Langkah ini ditempuh untuk menyambut berdirinya pabrik Pupuk Kujang di wilayah  setempat.
Pabrik pupuk tersebut memanfaatkan unitisasi gas Jambaran – Tiung Biru. Diperkirakan industri sertaan dari gas ini akan berdiri pada tahun 2014 mendatang.    Â
“Kami akan menyiapkan sebanyak 300 orang untuk bekerja di pabrik Pupuk Kujang,” tegas Bupati Bojonegoro, Suyoto, kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (16/9/2013).
Dia menegaskan, sebelum ditempatkan untuk menjadi pekerja di pabrik pupuk akan diberikan pelatihan sesuai tenaga yang dibutuhkan. Para orang tua tidak perlu khawatir untuk biaya pelatihan tersebut, karena semua telah ditanggung oleh Pemkab Bojonegoro.
“Jika kami bisa mencetak tenaga kerja profesional, tidak hanya kebutuhanm di Bojonegoro saja, tapi di luar Bojonegoro pasti mampu memenuhinya,” tegasnya.
Pihaknya mengaku, mendapatkan persetujuan dari Bank Jatim senilai Rp62 miliar untuk dipinjamkan sebagai biaya pelatihan calon tenaga kerja tersebut. Nantinya tiap-tiap anak mendapat jatah sebesar Rp12,5 juta tanpa membayar bunga pinjaman. Jika nantinya calon tenaga kerja yang sudah dilatih tetapi tidak mendapatkan pekerjaan dalam jangka 3 tahun, maka langsung ditutup hutangnya itu lewat asuransi sebesar Rp300.000.
“Jika dalam jangka kurang dari 3 tahun anak-anak ini sudah mendapat pekerjaan, maka otomatis mereka yang membayar ke Bank Jatim dari gajinya,” tandas pria berkacamata minus ini.
Mereka yang dipilih untuk mendapatkan pelatihan ini nanti bukan sembarangan, tetapi diseleksi terlebih dahulu. Akan diketahui mana yang memiliki tekad kuat, memiliki potensi dibidangnya, mampu bersaing, betul-betul sudah lulus, dan bukan sembarang anak bisa ikut seleksi ini.
Kalau betul bisa seperti itu, tidak perlu uang sebesar Rp62 miliar, cukup Rp25 miliar sudah bisa mencetak sebanyak 5.000 anak dengan gaji rata-rata Rp10 juta tiap bulannya.
“Maka kita akan mengurangi 48 persen rakyat yang menjadi petani di wilayah Bojonegoro, dan mengurangi secara pelan-pelan jumlah pengangguran,” tukasnya.
Pihaknya menegaskan, perlu adanya perubahan radikal atau perubahan besar-besaran, dan menciptakan transformasi masyarakat Bojonegoro dengan menciptakan sawah-sawah virtual. Sawah-sawah maya, yaitu calon-calon tenaga kerja terdidik dan terampil. Tidak ada mimpi yang datang tiba-tiba kecuali berusaha keras, dan bersungguh-sungguh mewujudkannya. (rien)