Kuliahkan Dua Anak dari Jualan Bibit Lombok

bibit lombok

Dengan berjualan bibit lombok, Muzamil dapat menguliahkan dua anaknya. Dia berharap anaknya kelak bisa bekerja di perusahaan migas. 

Lamongan – Siang itu terik matahari memanggang aspal yang ditempati puluhan pedagang kaki lima (PKL). Di area Rumah Sakit Muhammadiyah di Jl. Gotong Royong Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, tampak puluhan PKL beradu nasib mengais rezeki dengan menjajakan beragam daganganya.

Mulai dari makan dan minuman, ikan segar dan bumbu masakan. Diantara pedagang yang berderet itu terdapat satu penjual bibit cabai (lombok).

Dia adalah Muzamil, warga Desa Banjaran, Kecamatan Boureno, Kabupaten Bojonegoro. Pria berusia 45 tahun itu sudah puluhan tahun mengkal di area RS Muhammadiyah. Selain membawa bibit lombok, dia juga membawa bibit tomat dan terong.

Bibit yang rata-rata berusia 2-3 minggu itu dijajakan diatas tikar karung goni di depan garasi ambulan RS Muhammadiyah. Bibit dikelompokan sesuai jenisnya dan diikat menggunakan tali dari pelapah pisang. Setiap ikat berisi sekira 30 bibit.

“Sudah 20 tahun saya berjualan bibit. Yakni sejak sejak tahun 1987, Mas,” kata Muzamil kepada suarabanyuurip.com, Jum’at (21/9/2013).

Usaha penjualan bibit yang dilakoni Muzamil ternyata hasilnya cukup lumayan. Buktinya, selain dapat menghidup keluarganya, juga mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi. Putra sulungnya saat ini kuliah di Unesa Surabaya semester 5. Sedang anaknya nomor dua kuliah di salah satu universitas swasta di Lamongan.

“Alhamdulillah cukup untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak,” tuturnya.

Dari hasil penjualannya itu, Muzamil mengaku, setiap harinya bisa membawa pulang uang antara Rp50.000 hingga Rp100 ribu. Dia menjajakan dagangannya mulai pukul 05.00 WIB hingga 11.00 WIB.

“Kalau musim hujan tambah ramai. Karena petani mulai melakukan tanam,” sergah Muzamil.

Meski sekarang ini banyak petani yang membuat persemaian sendiri, namun tak jarang mereka lebih memilih membeli bibit yang langsung siap ditanam. Alasannya, membeli bibit jauh lebih mudah dan praktis ketimbang harus membuat persemaian yang memakan waktu dan biaya.

Apalagi harga yang ditawarkan Muzamil relatif murah. Untuk satu ikat bibit lombok berisi 30 batang harganya Rp5 ribu. Begitu pula dengan bibit terong harganya juga Rp 5000. Sedang bibit tomat harganya Rp 10 ribu pergendel.

Namun, saat ini harga bibit yang dijual Muzamil lebih mahal karena perawatannya sulit pada musim kemarau seperti ini. Jika musim penghujan, harga bibit dijualan lebih murah. Untuk lombok dan terong hanya Rp 4000/gendel dan tomat Rp 6000 /gendel.

“Bibit tomat lebih mahal karena merawatnya lebih sulit,” tegas dia.

Muzamil mengaku, merasa bersyukur dengan pekerjaan yang dianggap banyak orang sepele. Walaupun ia pontang-panting bekerja, yang penting anak-anaknya bisa menempuh pendidikan sampai perguruan tinggi.

“Saya tidak ingin anak-anak kelak menekuni pekerjaan seperti saya. Meski harus gali lubang tutup lubang, yang penting anak bisa kuliah,” ucap Muzamil.

Hanya satu yang menjadi impian Muzamil. Yakni jika dua anaknya lulus kuliah bisa bekerja di perusahaan minyak dan gas bumi (Migas) yang banyak beroperasi di Bojonegoro.

“Saya ingin sangat melihat mereka bisa kerja di Pertamina atau perusahaan minyak lainnya yang gajinya besar. Sehingga bisa mengangkat ekonomi keluarga,” harap Muzamil.(totok martono)

Baca Juga :   Ketika Bongkah Batu Tersentuh Andreas

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *