SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro- Moment Idul Adha tahun ini dimanfaatkan sejumlah masyarakat untuk mencoba peruntungan dengan menjual hewan kurban. Salah satunya Arif Kiswanto, warga Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Dari 25 ekor kambing jantan yang dijajakan, sepuluh ekor belum laku terjual. Lesunya penjualan ini disebabkan naiknya harga kambing. Untuk tahun 2012 lalu, per ekor kambing seharga Rp1 juta. Sedangkan sekarang harganya meningkat menjadi Rp1.500.000 sampai Rp3.000.000 per ekor.
Naiknya harga kambing ini disebabkan beberapa faktor. Diantaranya musim kemarau yang membuat rumput kering, sehingga menjadikan pakan ternak sulit. Selain itu juga biaya perawatan yang tidak sedikit karena naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Idul Adha tahun lalu, saya meraup untung sekitar Rp 30-50 Juta. Tidak tahu kalau sekarang, masih sepi,” kata Arif.
Kambing kurban yang dijual Arif itu merupakan hasil pengembangbiakan sendiri. Budidaya ternak itu dilakukan sejak 2010 lalu. Berbekal dana hibah dari operator Lapangan migas Sukowati, Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East (JOB P-PEJ), Arif bersama warga lainnya mbentuk tujuh kelompok peternak kambing. Masing kelompok beranggotakan 5 orang.
Saat itu tujuh kelompok memperoleh bantuan senilai Rp75 juta. Bantuan itu dibelikan kambing indukan dan jantan, bahkan sapi. Namun pada waktu itu sumber daya manusia (SDM) masyarakat belum mumpuni untuk budidaya ternak. Budidaya ternak yang dilakukan warga ring 1 sumur Pad B Sukowati itu pun gagal.
Pada tahun ke dua tepatnya, 2011 lalu, satu persatu kambing bantuan yang dikelola kelompok banyak yang dijual. Padahal, jika ternak itu berkembang biak dapat menjadi mata pencaharian sebagai pengganti lahan mereka yang dibebaskan operator untuk kegiatan industri migas.
“Alasan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi ya mau bagaimana lagi, saya tidak dapat berbuat apa-apa,” kenang Arif membuka cerita kepadasuarabanyuurip.com, Minggu (6/10/2013).
Tak ingin larut dalam kekecewaan, Arif bersama dua kelompoknya yang masih tersisa mencoba untuk tetap mempertahankan dan mengelola ternak bantuan tersebut. Hal itu dilakukan karena tidak memungkinkan lagi bagi dia dan kelompoknya untuk meminta bantuan kepada JOBP-PEJ.
Untuk itu, dengan telaten, Kambing yang semula tinggal empat ekor berhasil dikembangbiakan menjadi 25 ekor. Bahkan dari hasil pengembangbiakan itu sebagian kambing pejantan yang rata-rata berusia setahun keatas dia jual ke masyarakat untuk kurban. Selain itu, Arif mengaku, membeli kambing pejantan bakalan untuk kemudian dijual lagi.
“Sudah dua tahun ini saya jual-beli kambing, apalagi mau hari Raya Idul Adha,” pungkas pria yang pernah menjabat sekretaris BPD Ngampel ini.
Sekarang ini budidaya kambing itu dilakoni Arif bersama lima warga lainnya, anggota kelompok ternak yang masih tersisa. Dirinya tidak berani berharap banyak baik itu kepada pemerintah desa maupun JOB P-PEJ, setelah gagal melakukan budidaya ternak bersama tujuh kelompoknya.
Yang sekarang bisa dilakukan Arif adalah hanya bertahan hidup dengan adanya kambing dan meneruskan pekerjaannya menjadi buruh tani dari lahan sawah yang masih tersisa.
“Jangan melihat perubahan fisik di desa ini saja, karena masih banyak warga miskin di Desa Ngampel yang butuh peningkatan taraf hidupnya,” pungkas Arif. (rien)