SuaraBanyuurip.com – Totok Martono
Bojonegoro- Swalayan Ratu Keraton baru dibuka dipenghujung bulan Juni 2013 lalu. Keberadaan waralaba ini sempat memukul pasar modern di kota Babat, Kabupaten Lamongan dan pasar tradisonal di wilayah Baurno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Secara administratif, Swalayan Ratu Keraton masuk wilayah Kabupaten Bojonegoro, tepatnya di Desa Gajah, Kecamatan Boureno. Namun karena berjarak hanya sekira 1 kilometer arah utara kota Babat, atau Jalan Raya Babat-Jombang, Swalayan Ratu Keraton identik dengan Kota Babat.
Karena pada saat promosi di awal pembukaan, alamat Swalayan Ratu Keraton yang dituliskan di banner dan spanduk oleh pihak pengelola beralamat Jl Raya Babat – Jombang. Sehingga tak ada kesan jika swalayan itu berada di wilayah Bojonegoro.
“Mungkin pengelola ingin mengambil nama Babat yang sudah terkenal untuk memikat konsumen,†kata Kisno, warga Baurno kepada SuaraBanyuurip, Selasa (15/10/2013). Â
Namun dibalik alamat yang dicantumkan itu, berdirinya Swalayan Ratu Keraton memberikan angin segar bagi warga setempat. Puluhan tenaga kerja sebagai pramuniaga, kasir dan security direkrtut dari masyarakat setempat yaitu dari sekitar Desa gajah, Kelurahan Banaran hingga Kelurahan Babat Kecamatan Babat. Para karyawan mendapatkan gaji sesuai dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK), yakni rata-rata Rp1,2 juta per bulan.
Sejak awal dibuka umum, Swalayan Ratu keraton seakan menjadi magnet tersendiri. Itu dikarenakan Swalayan Keraton merupakan pusat perbelanjaan besar dan megah pertama kali diwilayah perbatasan Bojonegoro – Babat. Lahan yang ditempati swalayan keraton sekitar 5 hektar.
Selain itu, barang yang dijual harganya relatif sangat murah dibanding dengan barang yang dijual di pasar modern Babat maupun tradisonal. Mulai dari pakaian, perkakas dapur, perkakas rumah tangga dan barang-barang elektronik. Tak hanya itu, di pusat transaksi jual beli ini juga dilengkapi dengan belasan alat permainan modern yang dikenal dengan game fantasia. Game ini biasanya hanya terdapat di mall atau supermarket di surabaya atau kota besar lainnya.
Dengan alat permainan ini diharapkan akan menjadikan pengunjung betah menghabiskan kocek berbelanja di pusat perbelanjaan milik Piter pengusaha asal Bojonegoro itu.
“Sambil menunggu orang tuanya memilih belanja, anak-anak bisa bermain game fantasia. Game ini biasanya hanya ada dikota-kota besar,†sambung salah seorang pramuniaga Swalayan Ratu Keraton, Tutik.
Dengan menyediakan barang-barang yang lengkap dan ditunjang berbagai fasilitas tersebut, setiap harinya Swalayan Ratu Keraton dikunjungi ratusan hingga ribuan pengunjung baik dari Bojonegoro, Tuban maupun Lamongan.
Keberadaan swalayan keraton selama hampir 4 bulan itu berdampak terpukulnya dua pasar modern di kota Babat yaitu pasar baru babat dan pasar Semando Agrobis Babat. Dua pasar yang menjadi mega proyek Pemkab Lamongan tersebut semakin sepi ditinggal pembeli. Begitu juga pasar Tradisional di Kecamatan Baurno.
“Keberadaan Swalayan Ratu keraton memang berdampak pada pasar baru dan pasar agrobis babat. Namun tidak terlalu signifikan. Pemkab menganggap swalayan tersebut sebagai mitra untuk memberikan pilihan berbelanja bagi masyarakat,” kata Kasubag Kerjasama Bagian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Choirudin kepada Suarabanyuurip.com.
Namun siapa sangka, swalayan keraton yang telah menjadi primadona baru berbelanja bagi orang desa tersebut hanya ‘bertahan’ beberapa bulan. Setelah ludes dilahap sijago merah pada Selasa (15/10/2013) dini hari, belum ada kepastian kapan swalayan akan kembali dibuka.(tok)