Sisa Loji dan Bangsal Pekerja Minyak Pribumi

Loji-2

SAAT melintas di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur bisa dipastikan akan menemukan banyak bangunan besar yang dikelilingi pagar. Masih tampak kokoh walau disana-sini compang camping dimakan usia.

Tak banyak yang tahu kalau bangunan tersebut adalah bangunan milik Belanda. Dulu dibangun untuk Bangsal dan Loji, sebutan untuk tempat menginap, para pekerja yang melakukan pengelolaan sumur minyak mentah pada jaman kolonial.

Desa Banyuurip sendiri pernah menjadi desa dengan mobilitas tinggi. Karena banyaknya sumur minyak di desa tengah hutan jati tersebut. Hal itu disebabkan pada jaman kolonial Belanda, Desa Banyuurip merupakan tempat dimana kantor utama lapangan sumur minyak Kawengan berdiri. Yaitu lapangan dimana ditemukannya ratusan sumur minyak mentah, yang saat ini sudah dikelola oleh Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PEP).

“Saat saya masih kecil, bangsal-bangsal dan loji itu dulunya digunakan untuk pekerja minyak,” jelas Rusdi (75), salah satu tetua Desa Banyuurip ketika ditemui di rumahnya.

Rusdi menceritakan, keberadaan minyak mentah di tempat tersebut membuat mobilitas desa pada jaman penjajahan Belanda hingga tahun 1953 sangat ramai. Bukan ramai oleh aktifitas penduduk asli, tapi dari pekerja yang berasal dari Belanda, dan juga pribumi yang berasal dari berbagai daerah.

Mereka para pekerja Migas, memang diharuskan untuk menginap di bangsal apabila mau bekerja, dan ikut dengan Belanda. Keberadaan bangsal karena dengan dekatnya pekerja dari area industri minyak mentah, dirasa akan mempermudah apabila sewaktu-waktu mereka diperlukan tenaganya.

Baca Juga :   Tuban Terlahir Dari Jiwa Kepahlawanan

“Kalau untuk orang belanda dinamakan Loji, tapi kalau pribumi ikut bekerja dengan Belanda harus tingggal di Bangsal,” jelas Rusdi.

Rusdi sendiri mengaku, tidak tahu menahu kapan bangsal-bangsal Belanda ini mulai dibangun. Konon kabarnya dibangun pertama kali pada saat Ratu Willhelmina berkuasa di negeri Kincir Angin tersebut. Hal itu dilakukan, setelah menemukan potensi besar dari keberadaan sumur yang ada di Desa Banyuurip, dan Desa Wonosari, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, serta Desa Kawengan yang masuk di wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Keberadaan loji ini juga sempat dimanfaatkan pada saat pendudukan Jepang. Yaitu antara kisaran tahun 1942 hingga 1945. Meski begitu, pada jaman penjajahan Jepang di desa ini tidak terlalu banyak aktifitas penambangan minyak mentah. Karena, Jepang lebih berhasrat untuk melatih pribumi, sebagai persiapan untuk menggempur serangan tentara sekutu.

“Pada saat itu pribumi mulai pintar, dan Indonesia merdeka pada tahun 1945,” terang kakek yang pernah mencicipi pendidikan Sekolah Rakyat (SR) tersebut.

Sementara Loji yang hingga saat ini masih bisa dijumpai, merupakan pembangunan kedua kali oleh Belanda yang datang usai pendudukan Jepang. Hal itu karena adanya aksi pembakaran semua bangsal oleh pribumi setempat pada kisaran tahun 1950-an.

Aksi pembakaran tersebut, merupakan upaya yang dilakukan pribumi, untuk merepotkan Belanda saat akan berniat datang kedua kalinya ke tempat tersebut. Setelah Jepang hengkang dari Indonesia usai ditaklukan tentara sekutu dengan pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.

Baca Juga :   Geliat Warung Pangkon di Pasar Agrobis Babat

 “Sekitar tahun 1950, loji dan bangsal yang banyak itu dibakar orang sini. Karena tidak mau Belanda datang kembali setelah Jepang,” tuturnya dalam bahasa Jawa.

Meski sudah dibakar Belanda pun tetap datang di kawasan tersebut. Berbekal peta keberadaan sumur minyak yang diberikan oleh nenek moyangnya. Mereka melakukan pendekatan kepada pribumi untuk membantu mengelola sumur minyak di tempat tersebut. Tentunya dengan cara yang lebih halus dari masa sebelumnya.

“Kemudian membangun bangsal lagi, digunakan untuk pekerja. Tapi tidak segalak sebelum Jepang,” kenangnya.

Sumber cerita tentang keberadaan loji, dan bangsal ini mulai sulit diperoleh. Beberapa warga yang ada di sekitar lokasi mengaku tidak tahu menahu sejak kapan bangunan tersebut berdiri. Mereka hanya tahu kalau itu adalah bangunan peninggalan Belanda yang saat ini sudah dikuasai oleh negara.

“Sejak kecil sudah ada itu, Mas, saya tidak tahu ceritanya,” terang Tikno (52), salah satu warga yang ada di sekitar bangsal.

Aktifitas loji dan bangsal tersebut tidak lama. Selang beberapa tahun kemudian, tentara Belanda ditarik kembali ke negaranya. Disusul dengan warga Belanda yang masih bermukim disitu. Dari sinilah, keberadaan minyak mentah di tempat tersebut mulai di kelola sendiri oleh bangsa Indonesia pada kisaran tahun 1954. (edy purnomo)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *