Tak sedikit kisah menjadi sejarah hidup pekerja minyak pada era perminyakan tempo dulu. Apalagi mereka yang pernah mencicipi pekerjaan di sumur tua.
DI sumur minyak tua Kawengan pun tak lepas dari berbagai cerita. Termasuk pengalaman pribadi yang diungkapkan, Sudarno (63). Warga Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini bertutur tentang pengalamannya bekerja di sumur minyak Kawengan. Lokasinya tak jauh dari permukiman desanya.Â
Pada awal tahun 1970 silam, para pekerja harus mempersenjatai diri ketika sedang bertugas melakukan pengecekan sumur minyak mentah Kawengan. Persenjataan mereka pun beraneka ragam. Mulai dari kayu balok, pedang, kapak, ataupun senjata tajam yang lain. Mereka mempersenjatai diri untuk menghindari serangan binatang buas.
Kakek yang bekerja di lapangan kawengan sejak 1969 silam ini selalu menenteng pedang sepanjang lebih dari 1 meter saat bertugas. “Selalu bawa pedang, soalnya kalau ngecek sumurnya jauh. Disini masih banyak sekali binatang buas,†jelas Sudarno, saat ditemui di rumahnya di Desa Banyuurip, Senin (21/10/2013).
Langkah yang dilakukan Sudarno saat itu bukanlah hal yang berlebihan. Pasalnya, sumur-sumur minyak mentah peninggalan Belanda berada jauh masuk ke hutan. Terlebih hutan tersebut masih sangat lebat, serta masih banyak binatang buas seperti Harimau, babi hutan, hingga menjangan yang berkeliaran.
“Jangankan di hutan, Mas, kadang-kadang binatang itu masih sering masuk kampung,†ujar Sudarno, yang juga pernah mendapat lencana emas dari Pertamina karena pengabdiannya selama 35 tahun lebih ini.
Kini binatang buas mulai jarang ditemui di tempat tersebut. Itu terjadi bersamaan gundulnya hutan-hutan yang ada disana. Tentu keadaan tersebut berpengaruh pada keberadaan hewan yang hidup di dalamnya.
“Kalau dulu kerja di perminyakan jarang ada yang mau. Kita murni pengabdian, supaya masyarakat sekitar juga makmur,†ujar Sudarno.
Pengakuan Sudarno, dahulu semasanya banyak sekali warga Desa banyuurip, maupun desa sekitar lainnya yang bekerja di sumur Kawengan. Usai hengkangnya Belanda dari kawasan tersebut, tercatat ada sekitar 5 perusahaan yang bergantian mengelola ratusan sumur tersebut.
“Dipegang Pertamina baru pada tahun 1988 lalu,†tandas pria yang bekerja dari 1969 hingga 2006 lalu itu. (edy purnomo)
Â