Moh Muin : Saya Bersyukur dengan Yang Saya Terima

Muin-2

SENJA mulai beranjak ke rembang petang di sekitar sumur minyak Banyuurip, Blok Cepu. Guratan sinar sang surya mulai kemerahan di ufuk barat. Segumpal awan tipis berarak perlahan dituntun angin, seakan mengiringi Sang Bagaskara pejamkan mata beranjak ke peraduhan.

Sementara lalu-lalang mobil proyek melintas melalui akses road masuk lokasi proyek Enginering Procurement and Construction (EPC)-1, dan EPC-5 sumur Banyuurip masih silih berganti. Aktifitas proyek benar-benar tak mengenal jeda.  

Tampak lelaki berperawakan sedang berkaos panjang, dan bercapil buyuk warna biru langit tak jauh dari lokasi proyek. Dia terlihat sibuk mengumpulkan barang bekas (sampah) di pinggir jalan, di sudut Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa-Timur. Tepatnya di Dukuh Puduk (Sukorejo) sisi barat proyek Kampung Tunnel yang masuk lokasi proyek EPC-1.

Dia adalah Moh Muin, warga Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro. Pemulung ini mencoba bertarung di tengah hiruk pikuknya ladang migas Blok Cepu yang dioperatori Mobil Cepu Ltd (MCL).

Tak menghiraukan suasana alam yang sebentar lagi akan beranjak petang. Pria paruh baya itu cekatan mengumpulkan barang bekas, seperti botol minuman, dan kertas bungkus makanan dari pekerja proyek. Dimasukkan rongsokan itu ke dalam karung kusam. Sebelum lengan kekarnya memasukan karung tersebut ke keranjang di atas sepeda ontel di sampingnya berdiri.

Menggeluti profesi sebagai pemulung, menurut Muin, begitu dia biasa disapa, sudah menjadi pilihan hidup. Ibaratnya mengais rejeki dari sisa peluh pekerja proyek Blok Cepu. Ditengah para pekerja melepas lelah seusai bekerja, dan kemudian makan, minum disaat matahari mulai mengurai teriknya, disitulah Muin memulai ritualnya menadi pemulung.

Baca Juga :   Ziarah ke Makam Orang Tua Sebelum Dilantik

“Saya berangkat dari rumah pagi sekira jam 08.00 pagi untuk memulung disini, Pak. Kemudian sorenya pulang sehabis menjual rosokan kepada pembeli di Tobo, Desa Purwosari, Kecamatan Purwosari, Bojonegoro,” ungkap Muin.

Bapak dari satu anak ini menjelaskan, sebelum memulung di sekitar ladang migas Blok Cepu, dia juga pernah menjadi pemulung di ibukota Jakarta. Yakni, pada kisaran tahun 2008 silam. Kemudian pulang meneruskan profesinya ke luar masuk desa di Bojonegoro, hingga akhirnya banyak melakukan di sekitar proyek Banyuurip.

“Saya memulung disini sudah sejak dua tahun lalu, Pak,” terangnya.

Bekerja sebagai pemulung sudah dilakukannya sekira 15 tahun. Semenjak anaknya masih belita hingga saat sudah duduk di bangku SMP. Sehingga, sudah tidak kaget lagi meskipun harus menempuh perjalanan jauh, kepanasan bahkan kehujanan sekalipun.

Selama dua tahun memulung di sekitar proyek Blok Cepu, ungkap Muin, ada peningkatan penghasilan dalam setiap harinya dibandingkan saat melakukan di Jakarta. Meskipun, harga jual rosokan per kilo gramnya (Kg) lebih mahal di Jakarta. Yakni, satu Kg rosokan di Jakarta dihargai Rp7.000. Sedangkan disini hanya dibeli Rp2.000.

Alhamdulillah ada peningkatan penghasilan memulung di sekitar ladang Blok Cepu dalam setiap harinya,” akunya.

Pria yang berdomisili di Rukun Tetangga (RT) 07, Rukun Warga (RW) 01, Dukuh Wotanngare itu menambahkan, dalam setiap harinya hasil yang didapat dari pengumpulan rosok tidak bisa ditentukan. Kadang mampu mengumpulkan rosokan antara 30 Kg sampai 40 Kg. Karena, barang rosokan yang dikumpulkan hampir mayoritas berasal dari bahan plastik, dan kertas. Semisal, botol air kemasan, dan kertas bungkus makanan. Sehingga, bobotnya saat ditimbang ringan. Jadi jika seharinya dapat mengumpulkan rosok 30-40 Kg maka bisa meraih penghasilan per harinya Rp60.000-Rp80.000. Tentunya belum terpotong biaya makan, dan beli rokok.

Baca Juga :   Makan Bakso Sambil Baca Buku dan Berinternetan

“Kalau di Jakarta dulu mendapatkan hasil Rp40.000 per hari saja sudah ngoyo, Pak. Disana banyak saingannya,” paparnya.

Dia akui, menjadi seorang pemulung terpaksa harus dilakukan, karena merupakan salah satu cara untuk membuka lapangan kerja sendiri. Dia tidak memiliki pekerjaan lain, hanya hanya pemulung inilah yang harus dilakoni untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Termasuk membiayai sekolah anaknya.

“Mau kerja apalagi to, Pak. Sawah ladang tidak punya, dan apalagi mau melamar kerja di proyek migas malah tidak bisa,” kata Muin.

Disadarinya, selain pengalaman tidak punya usia juga sudah tua. Jadi seorang Muin sudah bersyukur kepada Tuhan dengan apa yang didapatnya, dari menggeluti profesi sebagai pemulung.

“Saya bersyukur dengan rejeki yang saya dapat, meskipun jadi seorang pengumpul barang rosokan. Yang terpenting halal tidak merugikan orang lain,” tukas pria berkulit sawo matang tersebut. (samian sasongko)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA BANYUURIP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *