Warga Ngunut Tuntut Tanggung Jawab MCL

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Pemerintah Desa (Pemdes) Desa Ngunut, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengadakan musyawarah dengan warga membahas kerugian akibat dugaan munculnya limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dari kegiatan eksplorasi sumur Migas Alas Tua Timur (ATE), Selasa (22/10/2013).  

Kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar tiga tahun terakhir sejak sumur Migas ATE dikelola operator Mobil Cepu Ltd (MCL). Bahkan warga melalui Pemdes setempat telah mengadukan permasalahan tersebut ke MCL, namun hingga kini belum ada tindak lanjut dari anak perusahaan Exxon Mobil tersebut.   

Kepala Desa Ngunut, Nurhidayati, menyatakan, musyawarah tersebut dilakukan agar warga tidak bertindak anarkis karena belum ada tindak lanjut dari pihak operator. Selain itu agar ada transparansi (keterbukaan) antara pemerintah desa dengan warga.

“Jangan sampai warga menuduh aparatur desa ada main dengan MCL, dan kontraktornya PT PPLI karena tidak diperhatikan selama ini,” tegasnya.

Dia menjelaskan, kurang lebih 3 tahun selama sumur ATE dieksplorasi sawah warga kering, dan mati terkena limbah. Ada enam orang dari tiga RT yang mengalami kerugian yakni dari RT 7, 9, dan RT 11, RW 02. Warga yang mengaku tanaman padi, dan palawijanya mati tersebut adalah Lasiran (40), Pujiono(50), Wartiman (45), Sukarman (45), Tomo (50), dan Sakiran (45).

Baca Juga :   437 Titik Tanah Wakaf Belum Bersertifikat

“Warga tidak bisa lagi bercocok tanam, seharusnya musim kemarau ini masih bisa menanam palawija tapi sekarang tidak bisa lagi,” tukasnya.

Dia menambahkan, akibat limbah B3 tersebut warga mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Namun, hingga sekarang belum ada tindak lanjut dari MCL maupun PT PPLI selaku kontraktornya.

“Ini informasi yang baru saya terima, sub kontraktor CV Dwi Karya telah memberikan  tali asih  Rp1 juta setiap orang,” imbuhnya.

Pihaknya berharap, MCL maupun PT PPLI mau menghadiri pertemuan antara warga, dan pemerintah desa. Agar tidak terjadi salah faham sehingga mengakibatkan permusuhan. Bahkan, selama ini pihak MCL seakan-akan tidak peduli karena setiap kali dikirimi surat untuk menghadiri pertemuan tidak pernah diindahkan.

Dikonfirmasi secara terpisah Field Public Government and Affair Manager MCL, Rexy Mawardijaya, belum memberikan keterangan apa-apa mengenai hal tersebut.

“Maaf saya masih meeting,” jawabnya singkat. (rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *