SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Tampaknya industri Minyak dan Gas Bumi (Migas) yang ada di sejumlah desa tampaknya masih sulit menyediakan lapangan kerja bagi kalangan pemuda desa setempat. Kondisi ini bisa dilihat di Desa Banyuurip, dan Desa Wonosari, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur tempat sumur Migas Kawengan.
Mayoritas pemuda dari dua desa tengah hutan tempat lokasi sumur Migas tinggalan pemerintah kolonial Belanda itu, lebih memilih merantau ke luar daerah. Itu terjadi lantaran sumur minyak yang sudah ada sejak mereka lahir tak memberikan lapangan kerja.Â
Hal ini terlihat apabila kita berada di Banyuurip, dan Wonosari jarang sekali bisa dijumpai pemuda. Tak seperti pemandangan yang biasa dilihat di desa-desa lain yang ada di Bumi Ranggalawe.
“Disini pemudanya sepi, banyak yang merantau,†terang Tikno (50), warga Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Rabu (23/10/2013).
Sekretaris Desa (Sekdes) Banyuurip, Abdul Haris, membenarkan kalau pemuda yang ada di desanya mayoritas perantau. Mereka merantau ke beberapa kota besar di Indonesia, seperti Surabaya dan Jakarta.
“Mereka merantau karena mikir mau kerja apa di kampung,†kata Abdul Haris.
Dari penuturan Haris, pendidikan pemuda desa setempat dan sekitarnya rata-rata Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Selain itu, sekarang juga sudah mulai banyak pemuda yang meneruskan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi (PT).
“Sekarang yang kuliah juga sudah mulai banyak,†jelas Haris.
Ramainya keberadaan pemuda di desa setempat, baru bisa ditemukan pada saat Hari Raya Idul Fitri. Para pemuda pada momen tersebut, biasanya mencarter bus atau kendaraan lain untuk pulang ke kampung halaman secara rombongan.
“Para pemuda kalau lebaran biasanya pulang menggunakan kendaraan dengan cara rombongan,†terang Iqtisar (30), salah satu pemuda yang ada di sekitar lapangan Kawengan.
Sementara itu, lapangan kawengan sendiri merupakan bagian dari Asset 4 Field Cepu. Yang saat ini dikelola oleh Pertamina Eksplorasi dan Produksi (PEP). (edp)