SuaraBanyuurip.com -Â Edy Purnomo
Tuban – Kejayaan kolonial Belanda yang berkuasa selama 350 tahun di Indonesia menyisakan banyak cerita. Mulai dari taktik dan tipu muslihat untuk menaklukan raja-raja yang berkuasa, politik adu domba, hingga melakukan pengerukan semua hasil bumi Hindia Belanda yang meliputi hasil pertanian dan minyak bumi.
Kawengan, adalah salah satu lapangan minyak mentah yang dikelola sejak jaman ini. Ditempat ini, Belanda melakukan penggalian ratusan sumur minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan dalam pemenuhan bahan bakar. Sumur yang menjadi penopang kilang Cepu ini, bersandingan dengan lapangan Nglodo dan juga lapangan Ledok.
Belum ada referensi yang membahas detail sejarah sumur tua ini. Hanya saja, kilang Cepu dibangun pada kisaran tahun 1984 oleh De Dordtsche Petroleum Maatschapij, yaitu perusahaan yang didirikan oleh salah satu insinyur tambang dari Belanda. Sebelumnya, perusahaan ini juga mendirikan Kilang Wonokromo pada tahun 1889 dan Kilang Pangkalan Brandan pada kisaran tahun 1891.
“Tidak tahu, sejak jaman nenek moyang sudah mengelola sumur-sumur itu,†kata Rusdi (78), salah satu tetua yang ada di Desa Banyuurip, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Desa Banyuurip, merupakan sentral pengelolaan lapangan Kawengan. Hal ini terbukti dengan adanya kantor pusat yang bediri ditempat tersebut. Sementara sumur-sumur minyak, selain berada di Desa Banyuurip, juga berada di Desa Wonosari, Kecamatan Senori, Tuban, Desa Mudal Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro, dan berada di Desa Kadewan Kecamatan Kadewan Kabupaten Bojonegoro.
Keberadaan minyak mentah ditempat ini tidak serta merta ada. Pada awal keberadaanya, Belanda melakukan pemaksaan kepada pribumi untuk melakukan penggalian sumur ditempat tersebut. Tak hanya itu, banyak pribumi yang terusir dari tanahnya. Mereka kemudian mejadi pelarian dan bersembunyi di beberapa desa sekitar, terbanyak adalah bersembunyi di Dusun Ngebrak, Desa Wangklu Kulon, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban.
Pengusiran para pemilik lahan ini, karena Belanda berniat menjadikan desa tersebut menjadi sentral industri Migas. Sehingga memerlukan lahan yang tidak sedikit untuk membuat sumur dan juga membangun bangsal dan loji (tempat peristirahatan) bagi Belanda dan pekerja kasar.
“Banyak yang tidak kembali sampai sekarang,†kata Sudarno (63), salah satu tetua desa, yang juga pernah mengabdi di perminyakan Kawengan selama puluhan tahun.
Pada kisaran tahun 1940 hingga tahun 1954 Desa Banyuurip seolah benar-benar disulap menjadi industri ditengah lebatnya hutan. Lampu-lampu penerangan ada ditiap jalan dan sudut desa. Jalan-jalan juga diperbaiki untuk mempermudah lalu lalang kendaraan milik bangsa Belanda.
“Saking padange (terang), kalau ada jarum jatuh pun bisa terlihat,†jelas Rusdi, yang mulai bermukim di Desa Banyuurip pada kisaran tahun 1940, sesaat sebelum penjajahan dilakukan oleh Jepang.
Meski pernah terjadi peralihan kekuasaan, yaitu antara Belanda dan Jepang. Tapi fungsi dari Desa Banyuurip tidak berbeda. Yaitu menjadi sentral pemukiman penjajah dan juga tempat untuk melakukan kegiatan pengelolaan sumur minyak mentah di ratusan sumur yang telah digali melalui tangan pribumi.
Meski tidak fasih dalam menyebut akronim, Rusdi masih ingat betul kalau yang melakukan pengelolaan minyak mentah ditempat tersebut adalah BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij), yaitu perusahaan minyak milik Belanda. Setelah sebelumnya dikelola oleh De Dordtsche Petroleum Maatschapij.
“BPM yang mengelola, saya lupa singkatannya, saya masih kecil,†terang Rusdi menambahkan.
Sementara pada jaman penjajahan Jepang, warga Desa Banyuurip sedikit menerima pendidikan. Tujuan Jepang saat itu adalah pribumi bisa membantu Jepang apabila Belanda kembali datang ke Indonesia dan melakukan penyerangan. Tapi rupanya taktik tersebut justru menjadi bomerang karena Indonesia justru melakukan perlawanan kepada Jepang dan memproklamirkan kemerdekaan secara nasional pada tanggal 17 Agustus 1945 lalu.
“Setelah itu banyak bangsal dan loji yang dibakar, mungkin supaya tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh Belanda,†kenang Rusdi.
Cerita lapangan Kawengan berlanjut, Belanda kembali datang kembali ketempat tersebut sekitar tahun 1948. Kali ini, mereka datang dengan cara yang lebih ramah. Pengelolaan sumur minyak dilakukan dengan cara membujuk pribumi secara halus. Selain memberikan sistem upah apabila mau membantu untuk melakukan penggalian, juga memberikan ganti rugi apabila lahan tersebut merupakan lahan milik pribumi. Termasuk pembangunan kembali bangdal dan loji untuk para pekerja.
“Juga ada Sembako dan bahan makanan lain, kalau malam Belanda juga kerap mengadakan pertemuan dan dansa di salah satu Loji,†tambahnya.
Meski begitu, banyak juga pribumi yang enggan untuk membantu Belanda. Tak terkecuali Rusdi. Mereka lebih memilih untuk melakoni pekerjaan lain. Seperti mengolah tanah dan beberapa pekerjaan lain sebagai gantungan hidup.
“Kalau saya tidak mau ikut kerja orang lain (Belanda), beda kalau bekerja sama bangsa sendiri,†tandas Rusdi.
Kejayaan kolonial Belanda ditempat tersebut berakhir pada kisaran tahun 1951. Semua tentara Belanda ditempat tersebut ditarik. Penarikan pasukan dilakukan dengan mematikan semua lampu yang menerangi desa setempat. beberapa saat kemudian, semua penduduk Belanda yang ada ditempat tersebut juga hengkang dari sekitar lapangan Kawengan. Meninggalkan semua perlengkapan perminyakan juga semua sumur minyak mentah ditempat tersebut.
“Saya juga nggak tahu, kenapa saat itu semua lampu kok dimatikan,†jelasnya. (Bersambung)