SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Salah satu Rumah Sakit (RS) swasta di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur  diduga teledor saat menangani operasi usus buntu seorang pasien bernama, Anggar Satria Negara (9). Pelajar SD asal Jalan Pemuda, Bojonegoro ini setelah dioperasi perutnya malah sakit. Â
Orang tua korban, Moh Subeki (40), mengatakan, kecewa dengan pelayanan salah satu rumah sakit yang dikenal terpandang ini. Hal ini dikarenakan saat dokter meminta tanda tangan operasi, pihaknya telah mempercayakan sepenuhnya kesembuhan sang anak.
“Tapi setelah operasi, bukan kesembuhan yang didapat. Anak saya mengeluh sakit pada perutnya,” tukasnya, Sabtu (26/10/2013).
Dia kemudian membawa kembali ke rumah sakit swasta yang melakukan operasi sebelumnya. Setelah dirongent ternyata usus di dalam perut Anggar mengeluarkan nanah. Tidak itu saja, dokter yang seharusnya bertanggung jawab pada operasi tersebut malah membuat surat rujukan ke salah satu RS terkenal di Surabaya.
“Saya sempat panik, tapi pihak RS lama sekali membuat surat rujukan karena harus menghitung administrasinya lebih dahulu. Karena mengutamakan keselamatan anak, akhirnya uang setumpuk saya tinggal di kasir tanpa menghitungnya,”ucapnya bergetar tanpa bersedia menyebut identitas RS di Bojonegoro yang dokternya teledor dalam melakukan operasi tersebut.
Tidak berhenti disitu saja perjuangan pemilik resto dan hotel di Bojonegoro ini. Sesampainya di RS yang dimaksud di Surabaya, dokternya tidak mau menangani Anggar dengan alasan sudah bosan selalu mendapatkan pasien rujukan dari Bojonegoro.
“Ternyata informasi yang saya dapat, di RS ini sering sekali mendapat pasien rujukan dengan kasus yang sama. Yaitu keteledoran dalam melakukan operasi,” tukasnya.
Dia menceritakan,di RS tersebut banyak pasien dari RS di Bojonegoro yang seharusnya menjalani operasi kecil tapi malah menjadi operasi besar. Tidak putus asa,dengan pendekatan terhadap dokter dan pihak RS akhirnya Anggar ditangani dan dilakukan operasi.
“Berapapun biaya saya keluarkan semua. Hanya saja membayangkan kalau itu terjadi pada masyarakat dari kalangan tidak mampu,apa jadinya,” imbuhnya.
Dia berharap, ada perhatian khusus dari Pemkab Bojonegoro, khususnya Dinas Kesehatan agar tidak ada lagi korban seperti anaknya. Jangan sampai standar pelayanan kesehatan di seluruh RS di Bojonegoro hanya abal-abal. Yang memprioritaskan profit oriented.
“Tapi bukan keprofesionalan kerja,” tegasnya. (rien)