Olah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Bokasi

bokasi

SuaraBanyuurip.com - Winarto

Bojonegoro – Kelompok Tani Jaya Makmur Desa Mojodeso, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur mengembangkan usaha peternakan sapi dan pembuatan pupuk bokasi untuk mendukung produktifitas pertanian.

Dari usaha peternakan yang dimulai sejak akhir 2010 silam itu, Kelompok Tani Jaya Makmur saat ini dapat memanfaatkan kotoran sapi untuk diolah menjadi pupuk non organik (Bokasi).

Menurut Ketua Kelompok Tani Jaya Makmur, Abdul Muin, kelompok ini mulai aktif sejak maret 2011 dengan usaha peternakan sapi. Saat ini jumlah anggota Kelompok Tani Jaya Makmur sebanyak 113 orang yang mengelola sapi sebanyak 35 ekor.

Setelah usaha tersebut berhasil, lanjut dia, anggotanya diajak mengembangkan usaha pendamping dengan mengolah kotoran sapi menjadi pupuk bokasi. Hal itu dilakukan karena semua anggota Kelompok Tani Jaya Makmur bermata pencaharian sebagai petani.

“Awalnya untuk mencukupi kebutuhan anggota. Namun sekarang banyak permintaan,” kata Abdul Muin.

Kini kelompok tani Jaya Makmur, mampu memproduksi pupuk Bokasi sekira 150 ton dengan rata-rata produksi 6 – 7 ton dalam waktu 14 hari. Selain untuk memenuhi kebutuhan pupuk anggota, hasil produksinya juga dijual dipasaran. Dengan harga Rp. 500/kg atau per  karung seberat  50 kg harganya cuma Rp. 25 ribu.

Baca Juga :   2017, SPBU Harus Lolos K3L

“Banyak yang cocok menggunakan pupuk bokasi. Hasil panen naik rata-rata 2 ton per hektarnya,” papar Abdul Muin.

Untuk cara pembuatan pupuk bokasi tidaklah sulit. Kotoran sapi setelah dikeringkan diberi tetes tebu dan E4 untuk menghilangkan bau. Kemudian kotoran itu ditabur arang sekam dan bubuk kayu.

“Setelah itu ditutup terpal hingga 14 hari dan sudah jadi pupuk bokasi,” tegas Abdul Muin, menerangkan.

Sementara itu, Camat Kapas,

Nanik Lusetiyani, merasa bangga melihat kreatifitas warga Desa Mojodeso dalam memanfaatkan kotoran sapi menjadi pupuk bokasi untuk meningkatkan produktifitas pertanian di wilayah setempat.

Seperti hasil panen kedelai di Desa Klampok sekarang naik menjadi 2 ton per hektar dari sebelumnya 1,2 ton.

“Kedepan target kita di Mojodeso harus memiliki pabrik yang lebih besar untuk meningkatkan produktifitas pertanian dalam rangka mendukung Bojonegoro sebagai lumbung pangan dan energi,” tegas Nanik.(win)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *